Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen "Peradilan Rakyat" karya Putu Wijaya
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"
"Kalau begitu, pulanglah anak muda”. Tak perlu kamu bimbang.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Cerpen "Merdeka" karya Putu Wijaya
Merdeka
Menjelang
pertempuran terakhir yang menentukan, kami semua, para prajurit, bersiap.
Mengumpulkan tenaga, mengerahkan jiwa-raga untuk mengakhiri habis-habisan
benturan yang sudah berlangsung ratusan tahun ini.
Aku duduk di
batang pohon kelapa yang mati disambar geledek. Di pangkuanku senjata,
sisa-sisa peluru, rasa sakit, dan lelah yang sudah tidak aku pedulikan lagi.
Bila subuh
pecah dan matahari menyerakkan bara di langit timur, kami harus menyerbu. Hidup
atau mati itu soal nanti. Roda sejarah ini tidak boleh berhenti.
Kawan-kawanku
ada yang berbaring tidur untuk menikmati mimpinya yang mungkin tidak akan
pernah lagi kembali. Ada yang menulis surat buat keluarganya
meskipun dia tahu semua itu tidak akan pernah sampai. Di depan nyala api,
komandan termenung seperti membaca apa yang akan terjadi.
Waktu itulah
sebuah tangan menepuk pundakku. Setan datang dengan wajah yang gemilang. Lebih
cantik dari semua bintang layar kaca atau bidadari di kelir wayang yang pernah
aku tonton.
Senyumnya
menghancurkan seluruh duka yang bersembunyi di balik tulang dan urat-uratku
yang sudah patah dan rengat. Dan baunya bukan main harum. Semerbak sehingga medan pertempuran yang
anyir oleh bau darah itu berubah jadi kamar hotel berbintang sembilan yang
sensual.
"Bang,"
suaranya mendesah membasahi telinga.
Aku tak berani
menoleh. Imanku sudah runtuh mendengar sapa yang menyengatkan listrik ribuan
voltase itu.
"Bang,
aku datang membawa pesan untukmu. Abang punya waktu sebentar aku ganggu?"
"Pesan
apa?"
"Jangan
memandang ke depan hanya sebatas pandang."
"Kenapa?
Apa yang bisa aku lakukan, aku hanya manusia biasa yang sudah bertahun-tahun
tidak sempat tidur."
"Kalau
Abang hanya melihat yang ada di depan Abang, Abang hanya akan melihat sebuah
tiang bendera. Paling banter Abang hanya akan kepingin menaiki tiang itu untuk
mengibarkan bendera."
"Betul,
memang begitu."
"Paling
banter Abang hanya akan menikmati bendera itu mengibas-ngibas ditiup oleh angin
yang bertiup membawa asap knalpot, sampah pabrik, dan debu-debu kotor yang
penuh penyakit. Dalam waktu sekejap Abang akan sakit."
"Tidak
apa. Aku sudah biasa sakit. Tambah sakit lagi tidak akan berarti apa-apa. Sebentar
lagi ini akan berakhir.
Begitu rona
merah menebarkan api di langit, pertempuran yang tidak seimbang ini akan memusnahkan
kami semua. Tapi tidak apa. Demi merdeka jiwa-raga harus rela
dikorbankan."
"Itu
bodoh. Itu tidak perlu terjadi. Abang harus terus hidup untuk mengalami apa
yang akan terjadi. Untuk apa berjuang kalau hanya untuk mati?"
"Untuk
merdeka."
"Abang
sudah tertipu! Lihatlah ke depan. Enam puluh lima tahun lagi, kalau Abang merdeka, Abang
akan menyesali apa yang sudah Abang lakukan."
"Kenapa?"
"Enam
puluh tahun lagi dari sekarang, pohon-pohon itu akan ditebangi jadi jalan dan
mall. Pencakar-pencakar langit akan menancap di setiap jengkal tanah di seluruh
tubuh kota.
Jalan layang
melilit kota,
tidak ada lagi yang akan sempat melihat pagi dan senja merah, karena langit
sudah dihancurkan oleh dosa-dosa pembangunan.
Di jalanan
tidak ada lagi ruang bagi pejalan kaki dan sepeda, semua direbut oleh kendaraan
mewah punya para konglomerat.
Kehidupan ini
bukan milik rakyat, tapi para pemimpin, ketua-ketua partai, dan para cerdik
pandai yang nenjadi selebriti karena teori-teori kemanusiaannya yang luar biasa
cerdas, tetapi tak pernah berpihak kepada kemanusiaan.
Uang adalah
dewa yang paling tinggi yang ingin dimiliki oleh semua orang dengan segala
macam cara. Termasuk menipu, menindas, membunuh, juga mempergunakan ideologi,
ilmu pengetahuan, kesenian, dan agama.
Karena itu,
terimalah ini. Aku diminta menyampaikan ini kepada Abang. Buanglah senjata yang
tidak akan sempat meletus itu, karena senjata-senjata kuman sudah terlebih
dahulu akan mematuk nyawa Abang. Kecuali kalau Abang terima ini!"
Setan
mengulurkan sebuah cek.
"Berapa
saja angka yang Abang taruh di atasnya, cek ini akan bunyi tetapi dengan satu
syarat."
"Aku harus
meletakkan senjata? Tidak!"
"O tidak,
tidak! Abang tak perlu meletakkan senjata, itu melanggar janji seorang
prajurit. Tetap saja angkat senjata Abang dan kemudian tembakkan. Karena itulah
gunanya senjata itu diberikan.
Tapi jangan
menembak ke arah depan. Karena musuh yang sebenarnya bukan di depan, tetapi di
samping dan di belakang. Terutama di dalam diri Abang sendiri.
Tembak
semuanya itu, bersihkan musuh-musuh dalam selimut yang sudah membuat enam puluh
lima tahun
merdeka itu lebih neraka dari apa yang ada sekarang."
Aku
tercengang.
"Menembak
ke dalam diriku sendiri?"
"Ke samping
dan ke belakang juga."
"Tapi,
itu bunuh diri."
"Bukan.
Itu pembersihan rohani!"
"Itu
berarti aku akan membunuh teman-teman seperjuanganku sendiri."
"Bukan.
Mereka itu musuh dalam selimut."
Aku terkejut.
"Bagaimana,
berkenan? Mohon jangan menolak, karena aku akan kecewa dan sedih."
Setan tidak
menunggu jawabanku. Dia langsung menjatuhkan diri ke pelukanku. Lalu mencium
dengan mulutnya menempel seperti bekicot. Ciuman lengket itu membuat tubuhku
meleleh.
Pagutan
tangannya adalah lengan-lengan gurita yang mengurung dan membelit sukma
sehingga aku ringsek total.
Senjata itu
terlepas dari tanganku, sementara cek yang diselusupkan ke kantung bajuku
seperti tangan nakal yang merogoh liar kegairahanku, sehingga dalam ketegangan
yang tak tertahan, aku tidak bisa bilang tidak.
Aku
terpanggang di dalam api setan. Aku melambung dilalap kenikmatan yang belum
pernah kualami.
Apa yang lebih
berharga lebih dari rasa bahagia. Apa aku harus menolak apa yang dikejar oleh
semua orang dengan mengorbankan jiwa-raga dan kehormatannya, apalagi ia datang
menyerahkan diri kepadaku tanpa syarat.
Aku kelenger.
Belum pernah aku menikmati kenikmatan yang begitu panjang dan seakan-akan tidak
akan pernah berakhir. Aku hanyut dan menyerah. Aku ingin berada di puncak kebahagiaan
itu selama-lamanya.
Tetapi,
tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku. Ketika aku terbangun, aku
terperanjat. Di depanku, sahabat karibku berlumuran darah.
Wajahnya
begitu dekat, sehingga aku tepercik oleh darah yang menetes dari lubang peluru
di dahinya. Ia membuka mulutnya tetapi begitu lemah, sehingga aku menempelkan
telingaku untuk mendengar.
Bangun,
tembak, jangan tidur, mereka menyerbu sebelum kita sadar, katanya, lalu
langsung roboh. Aku gugup tapi berdiri. Sekitarku sudah menjadi lautan mayat.
Semua temanku
sudah tertembak mati. Tinggal aku sendiri yang luput karena sudah bermimpi atau
memang aku disisihkan supaya katut menang, karena setan sudah memilih.
Lupa pada cek
yang ada di kantung. Lupa pada gambar yang sudah ditempelkan setan di benakku
tentang kebobrokan 65 tahun yang akan datang, aku angkat senjata. Tapi mana
senjataku.
Tanganku
kosong, senjata entah di mana. Aku berteriak histeris, tapi suaraku ditelan
kebekuan kalah. Aku berontak. Aku angkat tanganku, tapi tidak bisa, tanganku
kaku. Aku menadahkan muka ke atas menjerit minta pertolongan.
Tiba-tiba, di
atas sana aku
lihat bendera sang saka berkibar di puncak tiang. Gagah dan bergelora
dikibas-kibaskan angin. Negeriku sudah merdeka. Rakyat bebas.
Aku meledak.
Kesedihanku berubah jadi kegembiraan. Aku terlempar ke 65 tahun yang akan
datang di tahun 2010. Terima kasih Tuhan!
Tapi, ketika
memandang di sekitar, aku terperanjat. Hutan dan gunung gundul. Sungai kering
dan laut terpolusi. Musim hujan tidak karuan.
Bencana alam
menghantam. Hujan, banjir, longsor tetapi hutan terbakar, gunung meletus, sumur
bumi muncrat menenggelamkan kota
dalam kubangan lumpur.
Demam
berdarah, flu babi, narkoba, kemiskinan, korupsi, gontok-gontokan agama,
disintegrasi. Rakyat kelaparan sementara para pejabat sibuk bertengkar saling
menyalahkan dan menghasut dialah yang paling tepat memimpin. Keos!
Lalu aku
dengar setan tertawa.
Betul tidak,
betul tidak apa yang aku aku katakan, kata setan. Tidak ada gunanya
kemerdekaan. Kemerdekaan hanya buat orang kaya dan yang berkuasa. Kalian, 220
juta kawula, akan tetap menjadi budak yang tidak punya masa depan.
Bukan kalian
yang akan menulis sejarah tapi para konglomerat, petualang-petualang politik
dan para elite yang melihat kehidupan dari balik teori-teori akademisnya yang
abstrak.
Setan tertawa
ngakak.
Aku jadi muak!
Benci! Marah! Sumpek! Aku sumpahi, ludahi, hajar habis semua kebiadaban itu.
Aku malu, aku luka, aku sakit!
Tiba-tiba
sebuah tangan menepuk pundakku. Ketika kubuka mata, anakku, Taksu, berdiri di
depanku dan berbisik.
"Kalau
kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada para penindas,
mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu akan terus menyandera diri dan
jiwaku. Aku ingin menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua
kebencian itu, sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan
merdeka."
Aku terkejut.
Kupandang Taksu seperti melihat terowongan gelap.
"Apa?
Coba ulangi!"
Taksu
mengucapkan sekali lagi, sementara aku memejamkan mata. Kalimat-kalimat itu
seperti ujung jarum yang menembus kuping dan masuk langsung ke hulu hatiku.
Jantungku yang
robek dijahitnya kembali. Sedang hulu hatiku yang tertutup dibukanya
lebar-lebar agar udara yang segar berembus masuk mencuci pikiranku yang sumpek.
Begitu Taksu
selesai bicara, kubuka mata seperti orang baru sadar dari pingsan. Aku seperti
dilahirkan lagi. Segar, bersemangat, dan penuh dengan harapan.
Entah dari
mana perasaan yang indah itu begitu saja merasukiku. Itu pemaknaan yang baru
terhadap kemerdekaan yang membuat horison menjadi berbeda. Luas, tak terbatas,
dan siap untuk ditempuh sekali lagi. Luar biasa!
Aku tatap
anakku dengan kagum.
"Kamu
hebat sekali, Taksu! Sejak kapan kamu berpikir mulia begitu?"
Taksu membuka
HP.
"Itu
pesan Facebook dari Yulie Panthi, salah satu kawanku di FB."
"Waduh,
hebat sekali dia!"
"Itu
kutipan dari ucapan Nelson Mandela."
"Pemimpin
Afrika Selatan itu?"
"Betul!"
"Wah,
wah, wah! Hebat!"
"Yang
hebat Nelson Mandela!"
"Tidak!
Teman kamu dan kamu juga hebat! Hanya orang-orang yang hebat mengerti
makna-makna yang hebat. Itu pemahaman kemerdekaan yang luar biasa, dewasa, dan
mulia, yang sangat perlu direnungkan oleh seluruh bangsa Indonesia
sekarang yang hatinya penuh benci, dengki, marah, dan berangasan!"
Taksu ketawa
mengejek.
"Berarti
Bapak juga hebat dong sebab memuji kalimat itu setinggi langit. Buat aku sih
biasa-biasa saja. Kuno! Kata-kata mutiara bisa dibuat seratus biji dalam satu
menit, tetapi bukan itu yang kita perlukan.
Kita
memerlukan tindakan. Indonesia
di usia 65 sudah inflasi kata-kata mutiara. Sekecil apa pun, tetapi tindakan
selalu lebih konkret dari kata-kata yang hanya akan menenggelamkan Bapak ke
dalam mimpi siang! Good-bye!"
Sebaliknya,
daripada membantah aku memejamkan mata kembali. Nelson Mandela sudah meniupkan
angin baru yang membuat aku bebas, lega, dan lapang dada.
"Sekarang
aku mengerti," gumanku ketika istriku lewat mau ke dapur.
Seperti aku
harapkan, dia berhenti.
"Mengerti
apa?"
"Apa
sejatinya makna kemerdekaan."
"Apa?"
"Bebas."
"Memang
dari dulu begitu kan?
Masak baru tahu? Makanya Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan
kita. Kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal mengenai
pemindahan kekuasan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan seksama dan dalam
tempo yang sesingkat-singkatnya."
"Dan apa
sejatinya makna kebebasan?!"
"Apa?"
"Melupakan!"
Istriku
terkejut.
"Melupakan?
Masak?"
"Ya!
Kelihatannya tidak mungkin, bahkan sepele. Tetapi nyatanya Nelson Mandela sudah
membuktikan itu.
Tak mungkin
orang besar dari Afrika Selatan itu mampu bertahan disekap puluhan tahun di
penjara, padahal usianya sudah uzur, sehingga ketika dibebaskan dia masih sehat
jasmani dan rohani sehingga mampu memimpin sebagai presiden pertama Afrika
Selatan!"
Lalu kuulangi
Mandela seperti yang aku dengar dari Taksu.
"Kalau
kubiarkan dan pelihara terus kekesalan dan kebencian kepada para penindas,
mereka yang pernah menderaku selama 27 tahun itu, akan terus menyandera diri
dan jiwaku.
Aku ingin
menjadi orang yang merdeka. Karenanya aku buang semua kebencian itu, sehingga
aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka."
Dewi, istriku,
manggut-manggut.
"Hebat,
mulia, dan sangat agung pikirannya kan,
Bu?"
"Ya,
iyalah Pak, orang besar memang pikirannya juga harus besar!"
"Lho,
bukan orang besar saja. Orang kecil, rakyat jelata, seperti kita juga harus
meneladani apa yang ditemukan oleh orang-orang besar itu. Karena itulah kita
sebut dia pemimpin. Bukan hanya karena dia berdiri paling depan kalau kita
berperang, itu sih wayang. Tetapi karena dia membuka makna-makna di dalam
kehidupan, sehingga kita bisa melihat apa sebenarnya inti baik, buruk, adil, dan
khususnya kemerdekaan itu. Tidak seperti kita sekarang di Indonesia ini
yang sibuk membenci orang lain, meskipun memang pantas dibenci!"
Istriku
termenung.
"Jadi
Bapak setuju pada Mandela?"
"Lho
bukan hanya aku yang sudah tua bangka ini, Bu. Bukan hanya kita yang sudah
bangkotan karena kebanyakan makan garam ini saja. Anak kita, si Taksu yang masih
mentah itu, juga setuju. Justru dia yang tadi membacakan pikiran agung Nelson
Mandela itu kepadaku, sehingga aku seperti mendapat pencerahan. Begitu hebatnya
arti kata-kata. Hanya kata-kata, tetapi cukup bisa mengubah perasaanku. Itu dia
kehebatan seni. Pikiranku seperti dicuci bersih, plong sekarang oleh kebenaran
yang diulurkan Mandela. Umpama Ibu hanya masak tempe-tahu atau ikan asin tok
seperti biasanya, suamimu ini tidak akan sambat lagi. Perasaanku jadi tenang
setelah mendapat siraman kebenaran dari Mandela. Batu pun rasanya sekarang
enak!"
"Ah,
Bapak kalau lagi senang suka melebih-lebihkan begitu."
"Lho, aku
serius! Ini penting sekali. Perubahan itu tidak dimulai dari penampakan
jasmani, tetapi rohani. Kalau di dalam sini sudah bener, semuanya akan jalan.
Tapi kalau di
hati sudah rusuh dan kotor, apa saja, yang baik dan sudah adil juga jadi salah.
Ya nggak?"
"Jadi
Bapak sekarang pengikut Nelson Mandela?"
"Bukan,
bukan, ini bukan kultus individu. Nelson Mandela tidak usah dipuja-puja.
Dia juga
manusia biasa.
Tetapi
pikirannya tentang kemerdekaan dan kebebasan itu sangat agung, perlu, harus,
wajib, dan mesti kita laksanakan, kalau mau mengubah keadaan baik di Indonesia
maupun di batin kita sendiri. Kita harus menjadi manusia yang merdeka, bebas,
sehat, dan waras!"
Dewi
menganguk-angguk.
"Sekarang
aku ke tetangga dulu dan menyebarkan virus kemerdekaan dan kebebasan Nelson
Mandela ini. Hal-hal yang baik tidak ada gunanya kalau tidak disosialisasikan!
Ini ibadah!"
Aku bergegas
keluar. Kutumpahkan ucapan Nelson Mandela itu, lengkap dengan kecap manisku.
Aku pujikan usaha berpikir positif, yang konkret dan arif-bijaksana itu.
Tak cukup
kepada beberapa tetangga, kusamper warung dekat rumah. Aku tularkan konsep
kemerdekaan yang membebaskan perasaan itu kepada semua orang.
Yang
menyenangkan, hampir semua, setelah diberi penjelasan, keplok tangan, sepakat
menganggap Nelson Mandela sudah memasok rumusan penting untuk membuka citra
baru tentang apa itu merdeka.
Sore hari baru
aku pulang. Ketika membuka pintu, terdengar suara azan dan beduk tanda buka
puasa. Tepat sekali.
Aku bergegas
masuk, lalu nyruput teh manis panas yang sudah dihidangkan istriku. Nikmat. Tak
ada yang lebih indah dari seteguk teh panas manis di ujung puasa. Perutku
langsung gemeletuk minta diisi. Tapi ketika membuka tutup meja makan aku
terkejut.
Tempe, tahu, dan ikan
asin lagi.
"Kok
hanya tempe-tahu dan ikan asin tok? Beribu-ribu kali aku sudah makan tempe-tahu
dan ikan asin, Masak aku mesti makan semuanya itu sekali lagi sekarang sesudah
12 jam tidak makan dan minum? Mana pecel lelenya?"
Istriku cepat
datang.
"Kenapa
Pak?"
"Kenapa
tempe-tahu dan ikan asin lagi. Tempe-tahu dan ikan asin tiap hari. Mana pecel
lelenya? Aku kan
sudah minta sekali ini pecel lele? Aku kan
minta pecel lele?"
"Ya!"
"Mana?"
"Tapi?"
"Jangan
tetapi! Pecel lele! Mana? Aku kan
minta pecel lele, bukan tempe-tahu dan ikan asin! Pecel lele!"
"Ya Bapak
memang minta pecel lele, tapi setelah itu Bapak bilang ..."
"Pecel
lele!"
"Tidak!
Setelah minta pecel lele, Bapak bilang, kalau hati sudah plong, bersih,
merdeka, dan lapang, apa pun jadi baik. Batu pun jadi enak!"
Aku tertegun.
"Aku
bilang begitu?"
"Ya,
Bapak bilang begitu!"
Aku terhenyak.
"Ya, ya
sudah, kalau aku sudah bilang begitu, memang harus begitu. Nggak ada masalah.
Tempe-tahu dan ikan asin juga enak kalau batu saja enak!"
Kontan
kulupakan pecel lele, kembali pada Nelson Mandela. Tempe-tahu dan ikan asin itu
aku andaikan dalam hati ikan reca-reca. Dengan garang aku lahap tempe-tahu dan
ikan asin itu dengan nikmat.
Peluh
berleleran dari kepalaku. Istriku takjub seperti tak percaya.
"Bener
nikmat?"
Nikmat sekali.
Lalu aku berbisik mesra untuk membuktikan kenikmatanku.
"Besok
pagi kita kabulkan permintaan Taksu yang sudah dua tahun kita tunda, karena
khawatir dia ketularan budaya kemewahan. Kita belikan dia motor baru. Ibu tarik
semua uang kita yang dipinjam oleh tetangga-tetangga, karena memang sudah lama
betul belum dikembalikan."
"Tidak
bisa!"
"Lho,
kenapa tidak? Tiga bulan lalu mestinya sudah mereka kembalikan!"
"Itu dia,
Pak. Daripada aku tekanan batin sampai malas keluar rumah ketemu tetangga,
karena kesal dicurigai mau nagih hutang-nagih hutang melulu, setiap aku keluar
mau bersilaturahmi mereka langsung mencelup masuk, seperti ada hantu, takut
akan aku tagih! Sudah berapa hari ini aku jadi segan keluar rumah. Supaya bisa
bebas dari tekanan batin dan merdeka lagi, tadi aku datangi mereka dan bilang
pada semuanya, ya sudah, hutang-hutangnya dilupakan saja semua. Jadi, sekarang
aku sudah bisa tenang lagi seperti kata Nelson Mandela."
Aku langsung
berhenti makan. Tempe-tahu dan ikan asin itu terasa sekeras batu. Batu-batu itu
mengganjal kerongkonganku sehingga aku tercekik.
"Ya
Tuhan, alangkah beratnya memperjuangkan kemerdekaa. Tapi seberat-beratnya
berjuang merebut kemerdekaan, ya Tuhan, alangkah beratnya hidup sesudah
merdeka!"
Karya:
Putu Wijaya

Cerpen "Laki-laki Sejati" karya Putu Wijaya
Laki-Laki Sejati
Seorang perempuan muda bertanya
kepada ibunya.
Ibu, lelaki sejati itu seperti
apa?
Ibunya
terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah
menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru
kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing.
Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan.
Sepasang
matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada
malam gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya.
Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak
masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam
cerita di dalam pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri.
Kenapa kamu
menanyakan itu, anakku?
Sebab aku
ingin tahu.
Dan sesudah
tahu?
Aku tak
tahu.
Wajah gadis
itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan
hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak
pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut cinta. Kalaupun dicoba, jawaban
yang muncul sering menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan
rahasia kehidupan dari anak-anaknya yang dianggapnya belum cukup siap untuk
mengalami. Kini segalanya sudah berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang
harus mereka ketahui, tetapi semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang
pada bahaya.
Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik.
Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik.
Jangan malu,
anakku. Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya, kalau kau sendiri tak
penasaran untuk membukanya. Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu,
meskipun sebenarnya kamu sudah tahu. Hanya karena kamu tidak pernah mengalami
sendiri, pengetahuanmu hanya menjadi potret asing yang kamu baca dari buku.
Banyak orang tua menyembunyikannya, karena pengetahuan yang tidak perlu akan
membuat hidupmu berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu
tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya
zaman memberikan kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga
sudah berbeda. Jadi ibu akan bercerita. Tetapi apa kamu siap menerima kebenaran
walaupun itu tidak menyenangkan?
Maksud Ibu?
Lelaki
sejati anakku, mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kenapa tidak?
Kenapa tidak?
Sebab di
dalam mimpi, kamu sudah dikacaukan oleh bermacam-macam harapan yang meluap dari
berbagai kekecewaan terhadap laki-laki yang tak pernah memenuhi harapan
perempuan. Di situ yang ada hanya perasaan keki.
Apakah itu
salah?
Ibu tidak
akan bicara tentang salah atau benar. Ibu hanya ingin kamu memisahkan antara
perasaan dan pikiran. Antara harapan dan kenyataan.
Aku selalu
memisahkan itu. Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang
seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di depan mata. Harapan
menjadi ilusi, ia hanya bayang-bayang dari hati. Itu aku mengerti sekali.
Tetapi apa salahnya bayang-bayang? Karena dengan bayang-bayang itulah kita tahu
ada sinar matahari yang menyorot, sehingga berkat kegelapan, kita bisa melihat
bagian-bagian yang diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita terima,
meskipun itu bertentangan dengan harapan.
Ibunya
tersenyum.
Jadi kamu
masih ingat semua yang ibu katakan?
Kenapa
tidak?
Berarti kamu
sudah siap untuk melihat kenyataan?
Aku siap.
Aku tak sabar lagi untuk mendengar. Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati
itu.
Ibu
memejamkan matanya. Ia seakan-akan mengumpulkan seluruh unsur yang berserakan
di mana-mana, untuk membangun sebuah sosok yang jelas dan nyata.
Laki-laki
yang sejati, anakku katanya kemudian, adalah… tetapi ia tak melanjutkan.
Adalah?
Adalah
seorang laki-laki yang sejati.
Ah, Ibu
jangan ngeledek begitu, aku serius, aku tak sabar.
Bagus, Ibu
hanya berusaha agar kamu benar-benar mendengar setiap kata yang akan ibu
sampaikan. Jadi perhatikan dengan sungguh-sungguh dan jangan memotong, karena
laki-laki sejati tak bisa diucapkan hanya dengan satu kalimat. Laki-laki sejati
anakku, lanjut ibu sambil memandang ke depan, seakan-akan ia melihat laki-laki
sejati itu sedang melangkah di udara menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.
Laki-laki
sejati adalah…
Laki-laki
yang perkasa?!
Salah! Kan barusan Ibu bilang,
jangan menyela! Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena dia perkasa!
Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak
tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami,
tetapi dia harus lentur dan berjiwa. Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti
juga kamu.
O ya?
Bukan karena
ampuh, bukan juga karena tampan laki-laki menjadi sejati. Seorang lelaki tidak
menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya
indah dan proporsinya ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi
laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan
rela berkorban. Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki sejati hanya karena
dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin
sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh
pengertian, berwibawa, jago bercinta, pintar mengalah, penuh dengan toleransi,
selalu menghargai orang lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya
karisma serta banyak akal. Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati
hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau
jenius. Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang
pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan
seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!
Kalau begitu apa dong?
Kalau begitu apa dong?
Seorang
laki-laki sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar
yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir,
membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia
berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang
sepantasnya dijadikan kehidupan.
Perempuan
muda itu tercengang.
Hanya itu?
Seorang
laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!
Orang yang
konsekuen?
Lebih dari
itu!
Seorang yang
bisa dipercaya?
Semuanya!
Perempuan
muda itu terpesona.
Apa yang
lebih dari yang satu kata dan perbuatan? Tulus dan semuanya? Ahhhhh! Perempuan
muda itu memejamkan matanya, seakan-akan mencoba membayangkan seluruh sifat itu
mengkristal menjadi sosok manusia dan kemudian memeluknya. Ia menikmati
lamunannya sampai tak sanggup melanjutkan lagi ngomong. Dari mulutnya terdengar
erangan kecil, kagum, memuja dan rindu. Ia mengalami orgasme batin.
Ahhhhhhh,
gumannya terus seperti mendapat tusukan nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam
penggambaran yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti itu.
Katakan di mana aku bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu, Ibu?
Ibu tidak
menjawab. Dia hanya memandang anak gadisnya seperti kasihan.
Perempuan
muda itu jadi bertambah penasaran.
Di mana aku
bisa berkenalan dengan dia?
Untuk apa?
Karena aku
akan berkata terus-terang, bahwa aku mencintainya. Aku tidak akan malu-malu
untuk menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku, menjadi bapak dari
anak-anakku, cucu-cucu Ibu. Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku
kalau nanti aku sudah tua. Menjadi orang yang akan memijit kakiku kalau semutan,
menjadi orang yang membesarkan hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan
aku pagi-pagi kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya
untuk menjadi suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi
menantu Ibu, penerus generasi kita, kenapa tidak, aku akan merebutnya, aku akan
berjuang untuk memilikinya.
Dada perempuan
muda itu turun naik.
Apa salahnya
sekarang wanita memilih laki-laki untuk jadi suami, setelah selama berabad-abad
kami perempuan hanya menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan
cepat Ibu, di mana aku bisa menjumpai laki-laki itu?
Bunda
menarik nafas panjang. Gadis itu terkejut.
Kenapa Ibu
menghela nafas sepanjang itu?
Karena kamu
menanyakan sesuatu yang sudah tidak mungkin, sayang.
Apa? Tidak
mungkin?
Ya.
Kenapa?
Karena
laki-laki sejati seperti itu sudah tidak ada lagi di atas dunia.
Oh, perempuan
muda itu terkejut.
Sudah tidak
ada lagi?
Sudah habis.
Ya Tuhan,
habis? Kenapa?
Laki-laki
sejati seperti itu semuanya sudah amblas, sejak ayahmu meninggal dunia.
Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik karena kecewa.
Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik karena kecewa.
Sudah
amblas?
Ya. Sekarang
yang ada hanya laki-laki yang tak bisa lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya
pembual. Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe
semua. Banyak laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan bisa
berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Tidak ada lagi laki-laki
sejati anakku. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu, tidak
mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas dan jadi macan
kalau sudah dapat apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah tua dan tidak rajin
lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa menggebuki kaum perempuan yang
pernah menjadi ibunya. Tidak ada lagi laki-laki sejati lagi, anakku. Jadi kalau
kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua. Lebih
baik hentikan mimpi yang tak berguna itu.
Gadis itu
termenung.
Mukanya
nampak sangat murung.
Jadi tak ada
harapan lagi, gumamnya dengan suara tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi.
Kalau begitu
aku patah hati.
Patah hati?
Ya. Aku
putus asa.
Kenapa mesti
putus asa?
Karena apa
gunanya lagi aku hidup, kalau tidak ada laki-laki sejati?
Ibunya
kembali mengusap kepala anak perempuan itu, lalu tersenyum.
Kamu terlalu
muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu
sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup
udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar
beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di
dalam kamarmu. Hidup tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam
perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku,
cari seseorang di sana,
lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!
Aku tidak
ngumpet!
Jangan lari!
Siapa yang
lari?
Mengurung
diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar!
Keluar ke
mana?
Ke jalan!
Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Bergaul dengan masyarakat banyak.
Gadis itu
termangu.
Untuk apa?
Dalam rumah kan
lebih nyaman?
Kalau begitu
kamu mau jadi kodok kuper!
Tapi aku kan banyak membaca? Aku
hapal di luar kepala sajak-sajak Kahlil Gibran!
Tidak cukup!
Kamu harus pasang omong dengan mereka, berdialog akan membuat hatimu terbuka,
matamu melihat lebih banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan orang lain.
Perempuan
muda itu menggeleng.
Tidak ada
gunanya, karena mereka bukan laki-laki sejati.
Makanya
keluar. Keluar sekarang juga!
Keluar?
Ya.
Perempuan
muda itu tercengang, suara ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia terpaksa
meletakkan buku, membuka earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R & B
ke dalam kedua telinganya, lalu keluar kamar.
Matahari
sore terhalang oleh awan tipis yang berasal dari polusi udara. Tetapi itu
justru menolong matahari tropis yang garang itu untuk menjadi bola api yang
indah. Dalam bulatan yang hampir sempurna, merahnya menyala namun lembut
menggelincir ke kaki langit. Silhuet seekor burung elang nampak jauh tinggi
melayang-layang mengincer sasaran. Wajah perempuan muda itu tetap kosong.
Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!
Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!
Untuk apa?
Banyak laki-laki
di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata
terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya,
apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya.
Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan
ia teman hidupmu!
Perempuan
muda itu tecengang. Hampir saja ia mau memprotes. Tapi ibunya keburu memotong.
Asal, lanjut ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini yang terpenting
anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh
mencintainya. Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya.
Perempuan
muda itu tercengang.
Dan lebih
dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih dari itu anakku,
katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin tegas, karena seorang
perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia, bagaimana pun dia, setiap
perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia,
bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya,
seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang
sejati!.
Karya: Putu Wijaya
Langganan:
Postingan (Atom)