Ringkasan novel Untuk Kukasihi: One For My Baby karya Tony Parsons

Judul         : One For my Baby (Untuk Kukasihi)
Pengarang : Tony Parsons
Tebal        : 568


Untuk Kukasihi: One For My Baby

Dari daerah Kanton, kurasa, karena meskipun pemegang paspor Inggris kuno berwarna biru dan suka mengaku dirinya oang Inggris, ia lahir di Hong Kong dan kadang-kadang kau bisa melihat semua hal penting yang di yakininya sudah terbentuk lama sekali dan berasal dari suatu tempat yang jauh. Sama seperti makna makan bubur dingin itu.
Makan bubur dingin itu berarti mengerjakan sesuatu begitu lama sampai ketika kau pulang tidak ada lagi yang bisa dimakan kecuali bubur dingin. Untuk menjadi mahir dalam suatu hal, kau harus makan bubur dingin itu, muridku. Aku mencoba betul-betul mengerti. Namun aku tidak bisa berbuat lain, entah mengapa aku merasa makan bubur dingin punya suatu arti yang lain. Entah mengapa dalam otakku yang bebal aku mengartikan makan bubur dingin sebagai di dalam suatu masa yang susah. Yang dia maksudkan adalah merelakan kenyamanan dan kesenangan untuk suatu tujuan yang lebih baik dan  menunda imbalan untuk suatu tujuan yang lebih berarti di masa mendatang. Makan bubur dingin sekarang supaya kau akan mendapatkan suatu yang lebih baik di masa mendatang.
Makan bubur dingin bagiku itu berarti menjalan suatu yang harus di jalani. Lebih dari itu, ungkapan tersebut berarti kehilangan seseorang. Seperti aku merasa kehilangan dia. Namun dia sudah tiada dan takkan pernah kembali. Momentum yang sempurna itu, saat ia membuka matanya dan tersenyum kepadaku, tapi sekarang aku tak kan dapat melihatnya lagi. Kau bisa menghabiskan seluru waktumu di dunia ini, tapi takkan menemukan lagi seseorang yang mengisi kekosongan yang pernah di tinggalkannya.karena bagaimana mungkin kau bisa menemukan pengganti untuk cinta sejatimu? Namun mau tak mau bginilah kenyataan.
Sekali hari aku ingin menelponnya. Aku memang tidak pernah sampai menelpon nomernya, meskipun selalu hampir sampai melakukannya. Aku khawatir suatu hari aku sungguh-sungguh menelponnya di nomernya yang lama dan orang lain yang mengangkatnya. Begitu aku merasa senang, sedih dan cemas, biasanya tiba-tiba aku merasa butuh bicara dengannya. Di saat kami masih bersama. Ia sudah pergi dan aku tahu ia sudah pergi. Jadi sekarang aku tahu apa yang sekarang harus aku lakukan. Aku harus makan bubur dingin, dan berusaha untuk mengatasi perasaan yang tidak tertahankan untuk meraih pesawat telepon itu.


Ada yang salah dengan jantungku. Aku tidak mengerti. Aku baru berlari di taman selama sepuluh menit namun otot-otot kakiku sudah terasa pegal, nafasku terengah-engah dan jantungku terasa memenuhi rongga dadaku bak seporsi besar kebab yang belum dicerna.
Di hamparan rumput tempat orang dilarang main bola, tampak seorang laki-laki Cina, umurnya pasti sekitar seusia ayahku, hampir enam puluh, tapi ia kelihatan bugar dan entah kenapa awet muda. Si pak tua itu memperhatikanku saat aku dengan nafas tersengal-sengal menuju kearahnya. Aku tersentak sesaat. Aku pernah melihat wajah seperti itu. Waktu aku tinggal di Hong Kong, aku melihat wajah itu bekerja di Star Ferry, melihatnya mengemudikan taksi di Kowloon, aku melihatnya menerawang sedih di arena pacuan kuda Happy Valley. Aku pernah melihatnya wajah itu mendampingi seorang cucu bersorot mata lembut yang sedang mengerjakan PR-nya dibagian belakang salah satu tokoh kecil, aku melihatnya menyerumput bakmi di sebuah warung daipaidong, aku melihatnya penuh debu, membangun gedung-gedung pencakar langit baru yang mega di atas puing-puing tanah yang sudah di bebaskan.

Wajah itu betul-betul tak asing bagiku. Wajah tanpa ekspresi, acuh tak acuh, dan tidak peduli sama sekali menanggapi keberadaanku. Wajah itu tidak peduli apakah aku hidup atau mati. Saat aku terengah-engah pandangan kami bertemu. Kemudian ia mengatakan sesuatu. Satu patah kata, entah kenapa kedengarannya seperti “Apes”.
Hong Kong membuat kita merasa spesial. Kita menatap kemilau lampu-lampu, uang yang banyak sekali, orang-orang yang tinggal di daerah pendudukan Inggris yang kecil dilaut Cina selatan itu, dan kita merasa spesial dengan cara yang takkan pernah kita rasakan di London, Liverpool, dan Edinburgh.
Aku mengajar bahasa inggris di Double Fortune Laguange School pada nyonya-nyonya Cina kaya dan trendi yang ingin bisa berbicara pada para pelayan restoran bermata bundar di dalam bahasa asal mereka. Aku memang sedikit lain dengan kolega-kolegaku. Kesannya seperti semua guru lain di Double Fortune Laguange School. Moto kami: “Belajar bahasa Inggris dengan mudah hanya dalam dua tahun”.
Aku berada di Hong Kong karena merasa jenuh di London. Tadinya aku mengajar Sastra Inggris di sebuah sekolah di tengah kota selama lima tahun. Situasinya memang tidak mudah. Apakah The Princess Diana Coomprehensive School untuk anak laki-laki terdengar asing di telinga anda. Lokasinya di sebelah utara London, di sana guru pertukarannya memang di temukan dalam keadaaan terjepit diantara perangkatnya sendiri. Walaupun begitu ternyata orangtua di sana jauh lebih menakutkan daripada anak-anak mereka. Pada malam-malam pertemuan di The Princess Diana, aku akan mendapati diriku berhadapan dengan orang-orang berotot dengan tampang sangar dan tato seram. Dan itu baru ibu-ibunya. Aku jenuh menghadapi semua itu. Jenuh dan capek mencoba menjelaskan kehebatan dan pesona bahasa Inggris pada anak-anak yang menuangkan kata-kata “Fuck”, “Fucking” dan “Fucked” dalam kalimat-kalimat mereka seperti saus tomat dalam Humberger.
Hong Kong membuat aku mesara seakan negeriku telah melakukan sesuatu yang penting dan unik. Sesuatu yang menajubkan dan berani. Dan ketika aku melihat semua lampu itu, aku merasa semua itu seakan sedikit banyak merupakan bagian dari diriku.
Si pak tua Cina itu bukan satu-satunya tanda adanya kehidupan di sana. Di sisi lain taman itu terdapat sejumlah tukang nongkrong sabtu malam, sekelompok remaja yang jelas belum kembali pulang ke rumah. Begitu melihat aku dengan tersengal-sengal menuju kearah mereka, mereka bertukar pandang sambil nyengir dan aku membatin, apa yang mereka tertawakan. Aku langsung tahu jawabannya. Mereka sedang menertawakan laki-laki gemuk berwajah merah yang terengah-engah dalam pakaian trainer baru dan jelas tidak memiliki tujuan tertentu di sabtu malam itu dan tak ada satu orang pun yang menemaninya ke sana. Setelah itu untuk waktu yang lama aku cuma duduk disana sambil memutar-mutar cincin kawin di jari tangan kiriku, dengan perasaan sangat kesepian. Aku berkenalan dengannya di atas Star Ferry, feri tua hijau-putih dengan dek bertingkat yang melayani penyebrangan antara Kowloon yang yang terletak di ujung daratan Cina dengan kepulauan
Hong Kong.
Aku memang bukan tipe yang menguasai seni langsung sambar, dan itu tidak terjadi dalam perkenalan dengan Rose. Tapi di atas Ferry lah aku pertama kalinya melihat Rose, berusaha menerobos pintu putar dengan membawa dus Karton besar, yang kemudian ia tumpu di pinggulnya saat menjejalkan beberapa koin ke dalam celah mesin otomat. Rambutnya hitam sehitam orang Cina, namun kulitnya sangat putih, seakan dia baru saja tiba dari satu negeri yang hujannya tak pernah berhenti. Ia mengenakkan setelan blazer sederhana, namun dus karton besar itu membuatnya tampak seakan ia bekerja di salah satu gang pasar di atas Sheung Wan, sebelah barat daerah Central.
Tangga feri diturunkan dan orang-orang mulai berbondong-bondong menaiki Star Ferry dengan gaya khas daerah Kanton. Aku mengawasi perjuangannya dengan dus kartonnya. Di saat ia tersenyum buru-buru untuk mengucapkan maaf setelah menghantam punggung seorang pembisnis Cina dengan dusnya. Aku mendapat tempat duduk. Ia berdiri di dekatku, tersenyum sendiri sambil merangkul dusnya.
Perjalanan antara Kowloon dan kepulauan Hong Kong itu hanya memakan waktu tujuh menit. Aku berdiri sambil berkata “Maaf anda mau duduk?”. Ia Cuma menatapku. Tadinya aku mau mengira bahwa ia orang Inggris atau Amerika. Tapi sekarang aku melihat dari rambutnya, matanya dan pipinya, aku beranggapan jika ia berasal dari Mediterania. Dusnya berisi penuh dengan selembaran amplok manila, dan dokumen-dokumen dengan segel yang bewarna merah menyalah. Mungkin ia seorang pengacara dan mungkin ia hanya mau berbicara dengan mereka yang menggunakan jas dan memiliki penghasilan enam digit. Aku baru akan duduk lagi ketika seorang laki-laki Cina tua berkemeja nilon dengan selembar Koran pacuan kuda mendorongku dan langsung menjatuhkan dirinya di tempat dudukku. Aku menatapnya dengan bengong saat ia membuka korannya dan mulai mempelajari kuda-kuda mana yang unggul di Happy Valley.
“itulah yang terjadi” ujar Rose sambil tertawa. “kalau anda dapat tempat, sebaiknya anda tetap duduk”.
Star Ferry merapat ke dermaga. Tangga feri di turunkan orang-orang segera naik kedarat. Kemudian ia tidak kelihatan lagi, terbawa arus orang-orang Kanton dengan dus kartonnya yang penuh dokumen-dokumen  menuju daerah dermaga dan setelah itu distrik bisnis daerah Central. Aku berusaha mencarinya diantara orang-orang di atas Star Ferry pada keesokan harinya, dan pada hari berikutnya, dan hari setelah itu, dengan harapan dapat tiba-tiba melihatnya tersenyum pada seseorang yang ia langgar dengan sebuah dus besar berisi dokumen-dokumen hukum.
 Saat itu hari minggu malam dan bar yang terletak dilantai teratas Hotel Mandarin itu penuh sesak dengan orang-orang berisik. Sebenarnya aku tidak mampu minum-minum disini menggunakan apa yang diberikan padaku oleh Double Fortune Language School. Begitu tentara pembebasan rakyat bergerak masuk, kau akan melihat semua yang ada di Central bergegas ke bandara. Ia bicara dalam nada yang membuatku merinding, penuh gaya seakan terdidikdan memiliki hak istimewah untuk mengeluarkan kata-kata bodoh yang diucapkan dengan rasa percaya diri. “kembalikan tempat ini kepada orang kasar-kasar itu, kau tinggal melihat mereka membunuh si bebek bertelur emas”, ujarnya. Aku menoleh untuk melihat tampangnya. Laki-laki itu duduk didekat sebuah jendela dengan seorang gadis, yang mencoba membuatnya terkesan. Si sok berotot rupanya tidak berupaya menjaga volume suaranya. Si sok berotot itu mengangkat wajahnya kearahku. Dia tampak bersinar. Si sok berotot kelihatan pirang sedangkan gadis itu lebih gelap. “apa sahutnya kasar”, ujarnya. “ lihat dirimu”, ujarku. “tenang Josh,”ujar Rose, sambil menyentuh lengannya. Seperti apapun ia nampak kehabisan kata-kata. “ah sudahlah kalian”, ujar Rose menengahi. Setelah itu aku mengalihkan pandanganku kearah Josh. Aku bahkan berjabatan tangan dengan si Josh. Rose tersenyum padaku. Beginilah awalnya
Seharusnya kami tidak cocok. Ia memiliki karir. Di usia 25, Rose sudah meraih sukses. Ia tinggal di apartemen kecil yang indah di Conduit Road, Upper Mid-Level, dibawah naungan puncak Victoria-surga kaum ekspat. Tempat kami termasuk di salah satu sarang sempit dengan diding-dinding yang begitu tipisnya. Rose tidak terbawa arus datang ke Hong Kong, tidak seperti aku. Sementara aku berkulat untuk membayar uang sewa, dibalik pintu-pintu tertutup daerah Central, roda perekonomian terus bergulir maju. Rose adalah salah satu diantara mereka. Aku benar-benar tidak punya bayangan dengan apa yang ia kerjakan. Hampir semua koleganya kaum muda yang suka berpesta dibar lantai atas Hotel Mandarin pada malam. Mereka melihat sebuah papan nama untuk Wang King Road, dan menjadikannya bahan lelucon tentang masa tinggal mereka, seakan keberadaan Hong Kong hanya sebagai ajang hiburan mereka. Aku juga tertawa ketika melihat iklan My Piss untuk pertama kalinya. Rose memang tidak seperti kebanyakan dari mereka. Aku tidak bermaksud menyamakan dirinya dengan ibu Teresa yang membawa sebuah tas kantor. Ia mencintai Hong Kong. Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang Hong Kong. Rose mengajakku menjajaki secara lebih mendalam. Ia mengajakku ke sebuah kelenteng dibelakang daerah Central, disana segalanya bernuansa merah dan emas dan udarahnya pengap karena asap dupa wangi, sementara nyonya-nyonya tua kecil membakar uang-uangan dalam gentong-gentong batu yang besar. “simbol umur panjang”, ujar Rose. Dihari-hari yang kami anggap tak berakhir itu, ia mengajakku ketempat-tempat yang takkan pernah kudatangi tanpa dirinya. Aku menemuinya sepulang kerja. Kemudian kami naik Star Ferry ke Kowloon untuk nonton di sebuah bioskop. Namun ia toh suka melakukan semua yang khas Inggris. Memang menyenangkan melakukan hal-hal yang khas Inggris. Cricket, rugby, sandwich, yang pinggirannya dipotong.
Di kawasan asia kami menemukan Hong Kong. Ia cantik, cerdas, dan baik. Ia penuh rasa ingin tahu dan tegar. Rose memihakku dengan cara yang belum pernah dilakukan seorangpun. Dan dengan mencintaiku, ia melepaskan semua belengguku, sehingga akau bebas menjadi diriku. Aku pernah memiliki Impian di London, impian untuk mencoba menjadi penulis, yang tidak pernah aku jajaki dengan berani. Karena itulah segalanya menjadi sulit sekarang. Si pak tua itu baru saja mengahiri tarian gerak lambatnya. Saat aku lewat didepannya, untuk kedua kalinya, dalam tempo yang lebih menyeret langkah-langkahku daripada berlari. Sekarang ia menatapku seakan sudah pernah melihat tampangku ribuan kali. Ia menyapaku lagi dan kali ini aku bisa menagkap dengan jelas apa yang dikatakannya. Kemudian ia mengalihkan perhatian dariku. Karena itu aku mencobanya saat aku lari keluar dari taman itu. Sambil mengarungi harapan daun daun kering terakhir untuk tahun ini, aku harus mencoba mengambil nafasku sekali lagi. Tidak mudah memang. Seperti kau tahu, Rose pernah menjadi alasanku bernafas.
Dimana suatu impian berawal? Impianku untuk menjadi seorang penulis berawal dari masa kanak-kanakku. Ayahku adalah reporter olahraga disebuah harian nasional. Ayahku bukan reporter keluarga yang terkenal.ayahku tidak pernah benar-benar menyukai prosedur pemberitaan. Ayahku bukan reporter olahraga yang hebat. Tapi ayahku tetap pahlawanku. Kemudian ia menulis buku. Kau mungkin tahu, bahkan sudah membacanya. Karena Oranges For Christmas A Childhood Memoir merupakan salah satu buku yang begitu merasuki perasaan, seakan tidak terhenti terjual.
Aku sedang menjalani pendidikan di sekolah guru saat buku ayahku diluncurkan. Aku tahu bahwa itu bukan hal yang mudah, butuh waktu bertahun-tahun untuk menulis Oranges For Christmas. Namun suatu keberhasilan muncul begitu saja. Oranges For Christmas A Childhood Memoir memang buku yang bagus. Buku ini tentang masa kanak-kanak ayahku di East End mengenai seberapa miskin tapi bahagianya mereka, mengenai seberapa senangnya ayahku beserta pasukan yang berupa kakak adiknya diantara mereka. Oranges For Christmas penuh dengan bocah berandalan bermuka kotor yang menikmati berburuan tikus diantara puing-puing bekas pengeboman, sementara tetangga-tetangga mereka menjadi k0orban serangan udara Luftwaffe. Dan itu memang ironis, karena Oranges For Christmas seperti bom yang dijatuhkan Hitler bagi keluarga ayahku. Kakak perempuan tertua ayahku, Autie Janet, tidak menghargai ide bahwa ayahku mengungkapkan pada dunia tentang saat ayah mereka memergoki dirinya mengencani GI-serdadu Amerika, sewaktu terjadinya pemadaman. Adik laki-laki ayahku, Reg, juga sempat mencak-mencak begitu membaca Oranges For Christmas. Kemudian masih ada Uncle Pete, seorang remaja di dalam buku itu, yang ikut berkecimpung dalam perdagangan dipasar gelap dan banyak membuat ibu rumah tangga muda tanpa stoking, yang memiliki suami digaris depan melakukan apa yang disebut Pete “main asyik-asyikan”. Auntie Janet yang menjadi pelampiasan nafsu seorang serdadu Amerika muda yang akan berangkat kepantai Normandia. Dan gara-gara Oranges For Christmas, semua orang menyukai ayahku. Selain saudara-saudaranya sendiri.
Di saat kembali setelah tinggal selama beberapa waktu diluar negeri, kau akan melihat negeri asalmu dengan mata seorang musafir yang menjelajahi waktu. Aku hanya pergi selama dua tahun, lebih sedikit, mulai dari musim semi tahun 1996 sampai musim panas 1998. kemudian ternyata perasaan sulit orientasi yang kualami ini tidak selamanya berhubungan dengan Rose. Aku merasakan itu di saat duduk di belakang kemudi mobil ayahku, melihat Koran, makan bersama kedua orangtuaku. Semuanya terasa sedikit janggal. Di mulai dengan adanya kaum pengungsi di Euston Road. Sewaktu aku berangkat, belum ada seorang pengungsipun di Euston Road. Semua itu memang baru. Semua itu sepertinya tidak masuk akal bagiku. Tempat asalku memang masih tampak seperti dulu, dengan cara mencemaskan. Kadang-kadang aku merasa seperti  bgerada di suatu tempat yang lain.
Sementara ini aku tinggal bersama kedua orangtuaku. Ini semua hanya untuk sementara. Dan aku tahu seharusnya aku mencoba melanjutkanhidupku. Tapi kalau kau percaya kau bisa mengenali seseorang yang tadinya belum pernah bertemu denganmu. Mereka memiliki rumah yang besar sekarang. Saat aku tumbuh dewasa dan ayahku masih seorang reporter olahraga. Kini ayahku sedang mencoba untuk menulis kelanjutan buku Oranges For Christmas, tentang bagaimana keberadaan keluarga yang benar-benar miskin tapi amat bahagia dimasa persis setelah berakhirnya Perang Dunia II. Aku tahu bahwa si pak tua cemas mengenai diriku. Kedua orangtuaku hanya mengharapkan yang terbaik untukku, namun mereka selalu mempermasalahkan sikapku untuk tidak dapat melupakan Rose, tidak dapat mengatasinya dan juga tidak dapat melanjutkan hidupku. Aku mencintai orangtuaku namun mereka menganggapku gemas. Ayah dan ibuku menganggap aku tidak waras karena aku tidak dapat melupakan Rose. Aku merasa ingin bertanya dengan mereka, bagaimana jika memang aku tidak waras? Aku lebih merupakan tipe pecinta Sinatra. Tadinya aku mengira lagu-lagu ini tentang kebersamaanku dengan kakekku. Kadang-kadang kakekku dan aku melihat Sinatra dalam sqalah satu film. Aku tumbuh dewasa dengan mencintai Sinatra. Mendengar Sinatra membuat aku teringat akan duduk dipangkuan kakekku.
Ayahku selalu berusaha mengalihkan minatku ke Metown. Lagu-lagu yang yang dimainkan ayahku untukku selalu berhubungan dengan masa muda, sedangkan lagu-lagu yang dimainkan kakekku untukku adalah berhubungan dengan hidup.
Ayahku dan aku memasuki ruang keluarga tempat nenekku sedang duduk didalam sofa favoritnya. Melalui jendela panjang dibagian belakan ruangan itu, aku bisa melihat ibuku dikebun, menyapu daun-daun yang berguguran. Ia menoleh padaku dan tersenyum. Terdengar pintu depan dibanting seseorang. Suara bantingan pintu itu membuat nenekku terbangun.
Aku berjalan-jalan diseputar daerah Chinatown. Saat kembali ke London, itulah yang aku lakukan sepanjang hari. Dengan memasuki Chinatown melalui salah satu dari tiga jalan utamanya Wardour Street disebelah barat, Macclesfield Street diutara, New Court ditimur. Hanya dalam waktu beberapa menit rasanya aku kembali ke Hong Kong. Deretan bebek di etalase-etalase, gadis-gadis cantik dengan rambut mengkilat. Chinatown merupakan salah satu tempat yang membuatku bahagia. Disana ada toko-toko, swalayan, dan tentu saja berbagai restoran. Saat aku secara acak menjelajahi jalan-jalan di Chinatown, sebuah puisi melintas dalam ingatanku. “Mandalay” mengisahkan seorang veteran Inggris yang sedang berkelana diseputar kota London. “Mandalay” memang tidak begitu berarti bagi murid-muridku yang bertubuh kurus dan pucat, dengan perangkat modern dan seringai mengejek mereka.
Aku lebih suka pergi ke Chinatown pagi-pagi. Saat itulah yang paling aku sukai, saat yang ada disana hanyalah orang-orang Cina yang bersiap-siap akan menghadapi kesibukan dihari itu. Aku selalu makan siang disana. Kadang-kadang aku makan lebih siang, mungkin semangkuk bakmi kuah. Kau bisa makan kapan saja di Chinatown.
Sejak aku tinggal di Hong Kong, aku menjadi sangat suka sekali pada acara minum teh diwaktu sore. Menurutnya acara minum teh diwaktu sore merupakan saat menikmati makan yang paling menyenangkan, karena merupakan satu-satunya kesempatan makan saat seharusnya kau bekerja. Rose selalu mengatakan hal-hal seperti itu, hal-hal yang membuat apa yang kau rasakan sebetulnya bisa dimaklumi.
Ada sebuah hotel keren dekat Bond Street, tempat mereka mmenyajikan acara teh sore. Pelayannya ramah. Di dekat stasiun bawah tanah ada beberapa orang asing muda yang bersandar pada dinding dengan gaya  pejalan kaki yang sedang bosan. Ada seorang gadis asia yang rambutnya dicat pirang dan seorang anak muda yang berasal dari bagian yang lebih panas di daerah Mediterania dengan kumis tipis dan cabang yang meruncing. Mereka sama-sama membawa setumpuk selembaran yang mereka bagi-bagikan tanpa gairah pada orang-orang yang lewat, sambil ngobrol dengan bahasa Inggris yang jelek. Aku menerima selembaran. Selembaran itu diberi corak bendera Inggris dan di bagian dalamnya ada pinggiran lain yang terdiri atas bendera-bendera dunia. Di dekat tulisan Churchill’s International Languange School terdapat gambaran siluet laki-laki gemuk dan gundul yang menampilkan entah Alfred Hitchcock atau mungkin Winston Churchill. Siluet itu dibuat seseorang dengan bakat artistic seadanya. Namun aku mendapati diriku tidak bisa membuang selembaran ini. Aku tidak tahu. Sepertinya cukup menjanjikan.
Kami tidak pernah berada terlalu jauh dari daerah perairan di Hong Kong. Mulai dari kafe kecil di Victoria Peak sampai diruang minum teh di hotel Peninsula. Dengan menamakan sampan yang bergambar. Nyatanya angkutan ini merupakan sarana angkutan bermotor. Sampan itu dimaksudkan sebagai semacam fasilitas. Terakhir kali kami menggunakan sampan ini, kami berlayar kesebuah pulau kecil. Dalam perjalanan kembali kami akan terkantuk-kantuk di dek. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, namun saat terbangun posisi matahari sudah berubah. Kemudian Rose berdiri tepat diatasku, sambil tersenyum. Sambil menempatkan kakinya di masing-masing sisi tubuhku, dengan hati-hati dia mengatur berdirinya sedemikian rupa, sehingga kepalanya menutupi matahari. Untuk waktu yang lama kita sama-sama tidak bergerak. Kemudian ia memindahkan kakinya.
Aku sudah melewati pintu Churchill’s International Languange School. Pintu masuk itu terletak diantara sebuah toko jins lama dan sebuah Coffe shop yang masih baru. Churcill,s International Languange School menempati seluruh lantai sebuah bangunan yang sepertinya semakin dalam semakin besar. Churchill’s terkesantempat yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan Princess Diana maupun Double Fortune. Tempat ini tidak memiliki kesan angker.
Aku tidak mengungkapkan pada Lisa Smith bahwa mengajar sering membuatku mual. Aku menjaga sikapku, menanyakan beberapa pertanyaan mengenai tunjangan serta persyaratan-persyaratan kerja. Tapi aku sudah tahu bahwa aku ingin menjadi bagian Churchill’s International Languange School.
Josh melangkah keluar lift persis setelah pukul enam. Josh memang sahabatku, meskipun aku sering merasa ia tidak betul-betul suka kepadaku. Saat kaki kami berjalan menuju Mother Murphy’s, Josh menyatakan padaku bahwa aku telah menyia-nyiakan hidupku. Namun demikian Josh merupakan sosok paling dekat dengan teman yang kumiliki. Banyak yang mengenal diriku jauh lebih lama dan jauh lebih menyukai dariku. Memang bukan salah mereka untuk bersikap begitu. Aku sempat bertemu dengan beberapa diantara mereka. Josh bekerja di daerah pusat kota sekarang. Kurasa Josh merasa sesuatu telah direnggut darinya. Namun kenyataannya tidaklah begitu. Josh memang berasal dari keluarga yang berada. Mulai usia dua belas tahun, Josh pergi ke sekolah Home Counties, disana dia selalu diejek karena gaya bicaranya. Orang-orang yang melihat Josh kemudian tersenyum. Aneh memang. Josh suka padaku. Ia mencoba menyembunyikannya tapi begitulah kenyataan. Namun selalu ada sesuatu yang mengganjal mengenai hubunganku dengan Josh. Secara pribadi aku merasa tidak mencuri seseorang dari orang lain.
Di saat kami tidak minum teh, kami berjalan kaki sepanjang City Road dan Upper Street untuk mencari taksi hitam. Kami sampai keujung Highbury Corner. Meskipun kami sudah meninggalakan daerah berlampu-lampu terang benderang, aku tahu ada beberapa tempat makan yang betul-betul baik disekitar sini. Ia menunjuk restoran Cina. The Shanghai Dragon sama sekali tidak mewah. Kau bisa mencium bau dapur dibalik sebuah pintu dekil yang terletak diujung  ruang tunggu. Joyce dan George, nama-nama khas Inggris yang suka digunakan oleh orang-orang Kanton. Ruangan itu dipenuhi seluruh anggota keluarga. Ada George dan Joyce.
Yang kusukai mengenai mengajar di Churchill’s International Languange School adalah kenyataan bahwa murid-muridnya jelas bukan lagi anak-anak. Kadang-kadang murid-muridku muncul terlambat. Kadang-kadang mereka sama sekali tidak datang. Mereka menatapku dengan bengong.
Saat aku pulang, aku mendapati Lena menagis didapur. Seharusnya itu bukan hal yang mencengangkan bagiku. Ada beberapa pembantu rumah tangga asing yang bekerja disini dan aku menemukan beberapa diantara mereka pernah menangis didapur ini.
Kedua orangtuaku memperlakukan gadis-gadis muda ini dengan sangat baik. Tadinya aku mengira Lena tidak seperti yang lain. Namun mereka yang bertampang biasa memang selalu cenderung berlebihan dalam menilai kecantikan merasa riku melihatku, ia mulai menghapus air matanya. Aku membawakan Lena segelas susu organic kemudian duduk bersamanya dimeja dapur. Aku mengawasinya saat ia mencicipi sususnya, wajahnya yang cantik merah setelah ia mengumbar emosi, matanya yang biru itu besar sebab habis menangis. Pagi itu ibuku menunggu sampai ayahku pergi ke gim, setelah itu ia mengatakan padaku bahwa ia ingin kita mengadakan pesta ulang tahun untuknya. Ibuku tersenyum dan tampak senang sekali dengan idenya ini. Kadang-kadang disaat aku berbicara pada ibuku aku mendapat kesan kami sedang membahas topik yang tidak berhubungan. Ibuku menjadi pengawas kantin di sebuah sekolah lokal. Ia bekerja di Nelson Mandela High. Ibuku menyukai keberadaannya di  Nelson Mandela. Ibuku dikenal selalu meletakkan sendok supnya. Ia sudah bekerja di Nelson Mandela selama hamper dua puluh tahun.
Ketika aku dalam masa pertumbuhan, ibuku mengalami beberapa kali keguguran. Aku tidak tahu sampai berapa kali itu terjadi. Tapi setelah aku melihat ibuku untuk suatu alasan tidak jelas ditangga rumah kecil tempatku dibesarkan, saat aku melihat hatinya hancur sementara ayahku berusaha menghiburnya. Aku sering mempertanyakan dimana mereka berada, adik-adikku yang tidak jadi lahir. Adik-adik yang tidak pernah lahir ini, seakan berwujud seperti ide yang pernah dimiliki seseorang. Ia mencintai aku, ia juga mencintai ayahku. Tapi seberapa banyak pun ia mencurahkan cintanya pada kami berdua, aku selalu merasa ia masih memiliki cukup banyak untuk diberikan pada orang lain. Ayahku jarang sekali dirumah belakang ini. Pagi-pagi ia pergi ke gin. Dan tatkala sore, ayah mengitari toko-toko di Covent Garden, Charing Cross Road, dan Oxford Street. Aku pernah melihatnya sekali ditoko buku. Nenekku sedang bercerita bahwa ia berusia 87 tahun dan masih memiliki semua giginya. Kedua orangtuaku dikenal sebagai Mike dan Sandy. Bagiku nama-nama itu terkesan kuno. Suatu masa di Inggris dengan pub-pub lokal, pesta dansa, dan piknik di pantai. Masa yang dingin dan serba terbatas degan musim dingin yang betul-betul dingin. Kau harus memiliki hati yang dingin dan keras untuk bisa meninggalkan keluargamu, tapi ayahku bukanlah tipe laki-laki yang dingin dan keras. Lemah, mungkin. Egois itu pasti. Bodoh tidak perlu diragukan, tapi hatinya tidak dingin dan keras.
Rose sangat memopesona saat berada di air.
Kami tampak seperti dua mahluk yang sama sekali berbeda saat berada dibawah permukaan air. Rose tetap rileks, bak melayang dalam keleluasaan. Aku tidak pernah merasa nyaman dengan peralatanku, setiap kali membersikan maskerku dari air, dengan was-wasterus mengecek persediaan udaraku untuk mengetahui dengan pasti berapa banyak lagi yang tersisa, selalu haus akan udara. Pokoknya aku tidak tampak bahagia didalam air. Ia sudah belajar menyelam sebelumtiba di Hong Kong. Sedangkan aku belajar menyelam dari Rose. Kami menikmati hari-hari yang menyenangkan. Pada hari jumat malam cuacanya masih terang dan bersih. Kami sudah menggunakan pakaian selam kami. Aku menyeleksi sebuah tangki, BCD, dan regulator. Dua selang regulator itu mempunyai peran untuk dimasukan pada mulut. Aku berdiri diburitan kapal sedangkan semua yang lain sudah didalam air. Hujan turun dengan deras sekarang. Aku jatuh ke air, tenggelam sesaat, lalu tiba-tiba berada dipermukaan. Maskerku mulai buram. Aku memakai maskerku dan melihat yang lain sudah mulai bergerak kebawah. Aku merasakan keberadaan lambung kapal dan para penyelam didekatku. Rose berada disebelahku, membuat gerakan-gerakan dengan tangannya. Dengan satu tangan aku menyatukan telunjuk dan jempolku membuat sebuah lingkaran. Jarak penglihatanku buruk. Aku mengecek sekelilingku, sambil berharap akan melihat tanda-tanda yang menyakinkan dari bentuk-bentuk manusia meliuk-liuk menembus kegelapan. Ini hari senin pagi dan murid-muridku sedang membuatku sulit untuk mengendalikan diri. Zen terkantuk-kantuk di bagian belakang kelas. Imran sibuk membaca. Astrud dan Vannesa asyik ngobrol. Witold berusaha menghentikan isakannya sementara Yumi mencoba menghiburnya. Hanya Gen yang melihat kearahku, menunggu sesuatu yang akan terjadi. Aku berdiri didepan mereka, menunggu kehadiranku secara fisik disadari. Zeng mulai ngorok. Imran mulai mengetik sesuatu di HPnya. Astrud dan Vanessa tiba-tiba tertawa. Witold mulai menangis. Yumi merangkul pundaknya. Gen berpaling. Dari cara mereka semua mengubah posisi duduknya dan menghindari kontak mata, aku tahu tak seorangpun diantara mereka yang mengerjakan PR. Biasanya aku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Biasanya mereka akan meminta saran dan sedikit bercanda denganku, tapi hari ini mereka terlalu takut dan marah untuk meminta bantuanku. Setelah bel berbunyi mereka semua keluar secepat mereka bisa. Tidak ada apapun yang bisa mengenai Jackie. Setiap pagi ia datang untuk bekerja dengan dandanan seperti aku berkencan dengan Rod Steward. Bahkan di saat sudah menggantinyadengan perangkat kerjanya, Jackie masih tetap nampak tampil seformal pramugari atau polwan. Kadang-kadang aku melihatnya di dalam ruang staf, di lorong, atau di sebuah kelas yang kosong. Murid-muridku tidak seperti Jackie. Murid-muridku tampil apa adanya. Hiroko kembali ke jepang untuk berhari natal. Berpisah dengannya terasa aneh. Kami berangkulan di pintu gerbang keberangkatan dan hiroko melambai kearahku terus sampai saat ia menghilang di balik sekat, sebelum tempat pengecekan paspor.
Aku menekan bel pintu rumah nenekku tapi ia tidak muncul. Aneh sekali. Aku tahu ia di dalam. Aku menghambur masuk flat putih kecil itu. Nenekku tidak kelihatan namun aku langsung melihat seorang laki-laki asing yang menggenggam sebuah foto berbingkai perak. Dengan segera aku melintasi ruangan itu dan menyergapnya. Ia menghajarku dari samping, membuatkuterhuyung kearah lemari kecil yang penuh souvenir. Kemudian nenekku muncul dari dapur kecilnya membawa nampan berisi teh dan biskuit. Si anak muda dan aku tiba-tiba seperti dilerai.
Saat melihat Hiroko menungguku di luar bangunan Churchill’s, aku teringat akan apa yang aku baca di rublik konsultasi mengenai seseorang yang mendominasi dalam suatu hubungan. Si pengasuh rublik menyimpulkan bahwa biasanya sosok yang mendominasi biasanya merupakan pihak yang tidak begitu membutuhkan. Tidak ada alasan bagiku untuk mendominasi Hiroko. Namun Hiroko lebih membutuhkan aku daripada sebaliknya. Ia gadis yang luar biasa. Ia tidak pernah mempermalukanku dengan cara lain selain manis. Apa yang salah denganku? Mengapa aku tidak bisa merasakan bahagia dengan wanita muda ini.
Berita buruk yang beredar di Churchill,s adalah telah terjadi sekandal seks yang melibatkan salah seorang guru. Berita baiknya adalah semua itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Hamish ditahan karena prilakunya didalam sebuah toilet umum di Highbury Fields. Singkatnya, Hamish ditahan untuk prilaku tidak sopan karena pada suatu malam ia menunjukkan minatnya pada seorang yang tadinya ia sangka juga menaruh minat padanya, tetapi ternyata ia masuk perangkap kepolisian. “aku khawatir, aku akan kehilangan segalanya”, ujarnya.
Aku kasihan pada Hamish, karena itu aku tidak menyuarakan apa yang ada di dalam kepalaku. Dan ia keliru mengenai London. Tapi kau bebas menentukan hidupmu sendiri, batinku. Kau hanya perlu sedikit memperhatikan sekelilingmu. Kadang-kadang aku berfikir cinta merupakan kasus identitas yang keliru. Seperti yang terjadi antara Hiroko dan aku atau seperti yang terjadi antaraHamish dan partnernya. Yang diinginkan Hamish adalah pergi ke tempat-tempat umum dan main seks dengan mereka yang namanya mungkin tidak akan pernah ia tahu.
Selama aku bisa ingat, nenekku selalu memendam rasa tidak suka yang amat sangat pada dokter. Tapi kini setelah ia benar-benar berbaring di subuah tempat tidur rumah sakit, nenekku mulai menunjukan tanda-tanda pikirannya akan berubah.
Saat ibuku, Joyce Chang dan aku duduk mengelilingi tempat tidurnya, nenekku menceritakan pada kami tentang mereka yang ditemuinya disini. Ia nampak bahagia setelah sekian lama, meskipun ada mesin kecil jelek dilantai dekat tempat tidurnya dengan selang tipis panjang yang disusupkan dibawah gaun rumah sakit putih yang membuatnya tampak seperti malaikat tua. Sebelah paruh-paruhnya ternyata sudah putih sama sekali. Pada foto ronsenya, begitu banyak cairan yang seharusnya tidak ada disana.
Aku tahu nenekku wanita tua yang tabah dan tegar. Tiba-tiba ia mengoceh dan kami semua menoleh untuk melihat ayahku yang sedang berdiri salah tingkah di bagian kaki tempat tidur itu. Ibu dan ayahku tampil lebih seperti kakak-adik daripada sepasang suami-istri. Dan untuk pertama kalinya aku merasa kasihan kepada ayahku. Ia memiliki segala yang tadinya ia inginkan, tapi ia tidak tampak bahagia.Tugas PR pertama Jackie Day adalah menulis apresiasi kritis dari dua puisi: “When You Are Old and Grey and Full of Sleep” karya WB Yeats dan “To Lucasta, On Going to the Wars” karya colonel Lovelace. Aku membaca esainya dalam tulisan tangan yang rapi. Kau merangkum itu dengan baik sekali.
Seorang wanita muda berdiri dibawah tiang lampu sisi lain jalan. Ia menggenggam seikat bunga. Mungkin untuk nenekku.
Wajah-wajah di Churchill’s selalu berganti. Murid-murid baru secara teratur datang di sekolah itu, penuh harapan dan kekhawatiran. Ada Hiroko dan Gen, dua-duanya melirik ke arahku melalui tirai rambut mereka yang berkilat berkilauan. Kemudian ada Zeng dan Witold, dua-duanya berjuang keras melawan kantuk setelah berjam-jam melayani orang di General Lee’s Tasty Tennesse Kitchen dan Pampas Steak Bar. Astrud, yang entah memang sengaja ingin menambah berat atau berada diawal masa kehamilan. Olga, yang duduk persis paling depan, menggigiti penanya, berusaha keras mengejar ketinggalannya dari yang lain. Dan akhirnya Vanessa, yang memeriksa kuku-kukunya yang terpelihara rapi. Vanessa duduk dengan memunggungi pintu kelas, sehingga tidak melihat sosok laki-laki yang wajahnya tiba-tiba tampak di jendela yang kecil, memeriksa isi ruangannya. Laki-laki tampan berusia empat puluhan, meski nampak sedikit tidak karuan, seakan sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi padanya. Ada memar di pipinya dan tangkai kacamatanya hilang sebelah. Matanya bersinar dibalik kacamatanya yang rusak. Sewaktu membuka pintu, terlihat bahwa lelaki itu membawa sebuah tas yang di jejal penuh. Perlahan-lahan ia melangkah ke dalam ruangan kelas. “Aku sudah melakukannya,” ujarnya pada Vanessa. “aku sudah meninggalkan dia”. Setelah itu mereka berpelukan dan bibir mereka menyatu. Aku melayangkan pandanganku ke arah murid-muridku.
30 Juni 1997. malam pengalihan pemerintahan. Malam pemerintahan Inggris mengembalikan Hong Kong kepada pemerintahan Cina. Para petinggi berada di pelabuhan. Rose dengan setelan Mao. Aku dalam pakaian Mandarin yang mengingatkan akan anggota staf Istana Kekaisaran lama. Kami minum-minum, kemudian pindah dari bar yang satu ke yang lain. Dan kami mempertanyakan bagaimana seharusnya kami bersikap. Apakah kami merayakan sesuatu atau berkabung? Apakah ini pesta atau acara kematian?. Tidak terasa adanya suasana gembira disana. Keributan terjadi dimana-mana.
George mengajariku Tai Chi dalam tiga tahap. Pertama-tama, aku mempelajari gerakannya. Kemudian aku mencoba menerapkan pernafasan pada gerakan. Dan akhirnya serta yang paling utama, aku belajar untuk rileks. Saat aku mencoba menjernikan pikiran serta menyenangkan hati, untuk melupakan kehidupan yang menantiku diluar batas hamparan yang sempit ini, aku bahkan tidak yakin aku akan mengerti. Ada gosip panas lagi The Churchill’s. Lisa Smith mengawasiku bagai burung elang tua penasaran yang tidak bisa melihat jauh lagi.
Olga dan aku menyusuri kanal-kanal daerah utara London untuk melihat rumah-rumah perahu, saat aku merangkul pinggangnya dan merasakan dengan takjub kelenturan tubuh mudanya. Itu. Kami menjelajahi bagian-bagian yang lebih rawan dari daerah Hampstread Heath minggu sore itu.
Kaca etalase Shaghai Dragon penuh dengan bunga dan lampu. Permainan nuansa buah peach, jeruk, dan bunga narcissus di hangatkan cahaya yang berasal dari beberapa puluh lampion merah yang diterangi api lilin. Kami berdiri di jalan menikmati dengan takjub keajaiban kecil di jalan yang sibuk di daerah utara London. Ibuku, nenekku, Olga dan aku, di bawah hangatnya lampion-lampion yang berwarna merah. Pada Shanghai Dragon ditempel dua poster merah dengan huruf-huruf Cina dari emas, lambang kebahagiaan, umur panjang dan kemakmuran. William tiba-tiba muncul di balik permukaan kaca pintu, yang segera disusul kakaknya, Diana. Setelah itu muncul orangtua mereka, Harold gemuk dan Doris yang pemalu, diikuti oleh Joyce dan George. Mereka semua tersenyum senang. “Gong xi fat choi!” seru keluarga Chang menyambut kami, saat kami melangkah masuk. “Selamat tahun baru juga untuk kalian!” ibuku tersenyum, meskipun Gong xi fat choi lebih berarti “Semoga anda sejahtera” daripada sesuatu yang berhubungan dengan peralihan ke tahun yang baru.
Olga menelpon aku persis menjelang tenga malam dan menyatakan ia harus ketemu aku. Aku baru saja mau menggosok gigiku dan pergi tidur, karena itu aku mengusulkan padanya besok pagi-pagi sekali, di kedai kopi seberang The Churchill’s. Ia mengatakan harus sekarang juga. Aku berpakaian dan kemudian naik taksi ke Eamon de Velera. Kami duduk di sebuah mejah pojok dikelilingi oleh para peminum yang sudah menghabiskan belasan gelas. “Aku sudah menjalani tes” ujarnya. Aku tidak bilang apa-apa. Aku menunggu, masih sulit bagiku untuk mempercayai ini terjadi kali ini, dengan gadis ini, wanita ini. Dan bukan istriku. Rose dan aku berusaha meraih momentum ini, namun kami tidak pernah berhasil. Apakah memang mereka yang menginginkan bayi tidak akan memperolehnya, sedangkan mereka yang tidak menginginkannya justru mendapatkannya. Begitulah kenyataannya. “aku hamil”, ujar Olga, wanita yang bukan Rose ini, sambil tertawa kecil bahwa sama seperti aku , ia juga tidak bisa mempercayai kenyataan ini. “aku akan mempunyai bayi”. Kami membiarkan fakta ini mengendap sesaat.
Pada  tahun baru Cina Olga dan aku kembali ke flatku, menemukan bahwa wadah gula  suvenir dari Hong Kong, tempat aku menyimpan persediaan kondomku sudah kosong. Dan kami memutuskan untuk mengambil resiko itu. Olga mulai terisak dan aku mulai mengulurkan tangan untuk meraihnya. “aku akan mendampingimu”, ujarku. Ia menarik tangannya. “”kau gila? Aku tidak mau punya bayi denganmu. Umurku dua puluh sedangkan kau hampir empat puluh. Kau cuma guru di salah satu sekolah bahasa kecil. Aku masih punya masa depan yang membentang di depan aku. Pacarku akan membunuhku.” Jadi setelah itu kami tidak mendiskusikan soal si bayi lagi. Kami hanya membicarakan tentang aborsi. Kemudian aku mengantarkannya kembali ke flatnya. Saat aku mau mencium pipinya, ia berpaling. Ia menghilang  ke dalam bangunan flatnya. Kami bahkan tidak saling mengucapkan selamat malam. Pada saat keberadaan keajaiban kecil ini, keberadaan si bayi yang sedang tumbuh di dalam dirinya. Kami belum pernah seasing ini terhadap satu sama lain. Pertama-tama Rose, kemudian bayi ini. Aku mencoba  merenungkan semua ini. Aku merasa, aku sedang melepas diriku dari tanggung jawab pada suatu tindak pembunuhan.
Aku bisa mengerti mengapa ia tidak mau punya bayi denganku. Aku tidak begitu bodoh sehingga tidak bisa mengerti itu. Ia belum berbentuk bayi, batinku berulang kali. Ia akan menjadi bayi, andaikata kami menyediakan ruangan baginya dalam kehidupan kami yang serba kacau ini. Namun inilah yang sedang kami lakukan. Kami akan membuangnya. Kami telah membawa nyawa yang tidak diinginkan dalam kehidupan ini. Kami sudah membuat perjanjian dengan klinik. Aku tahu itu satu-satunya cara. Mungkin ia juga merasakan hal yang sama.hubungan kami tidak mungkin akan berhasil. Si bayi seharusnya berterima kasih pada kami. Saat aku menjemput olga di klinik, aku mendapati aku menyukainya lebih daripada sebelumnya. Ia tampak begitu muda, mpucat, dan lelah, seakan ia baru saja melewati sesuatu yang akan terus membekas dalam dirinya, seumur hidupnya, sesuatu yang akan mengubah cara menilai kehidupan. Dan aku tidak ingin berpisah darinya. “Jangan kembali ke flatmu. Kembalilah ke tempatku. Kau bisa memiliki kamar sendiri, aku akan tidur di sofa. Sampai kau merasa lebih baik”. Aku bisa melihat ia tidak terlalu menyukai ide itu. Aku melongok ke dalam setelah beberapa lama dan melihat ia tidur, wajahnya nyaris sepucat bantal yang digunakannya.
Keesokan paginya aku meninggalkan Olga dalam keadaan tidur untuk pergi ke toko buku lokal untuk membeli hadiah bagi Plum. Persis di dekat pintu masuk toko, aku menemukan display yang mantap dari Smell the Fear, He-bitch. Aku mengambil satu dan mengamati sampulnya yang bergambar seorang laki-laki botak bertubuh besar yang setengah telanjang tampak mengertakkan giginya. Ia nampak seperti binaragawan sedang mempromosikan pakaian dalam. Aku membalik halaman-halamannya yang penuh gambar. Kebanyakan memperlihatkan The Slab sedang menghajar orang bertubuh besar lain dalam setelan Lycra ketat atau setidaknya berpura-pura. Namun ada satu bagian menjelang akhir buku itu tempat The Slab berpose dengan anak-anak kecil dari segala bangsa dan warna kulit. Dalam huruf-huruf besar yang mengisi foto itu The Slab menyatakan filosofinya. Pentingnya kerja sosial, kebutuhan memerangi rasisme, moralitas untuk membina hubungan saat masa pertikaian berdarah sudah berlalu. Ia menanamkan itu hal yang manusiawi. The Slab bilang bersikaplah manusiawi, kalau tidak aku akan menghajar bokongmu ke pohon derita.
Saat sampai di rumah kembali aku mendapati Olga sudah pergi. Kadang-kadang sudah terlambat bagiku untuk melakukan sesuatu hal yang bersifat  manusiawi. Dan aku mulai merenung tentang tahun baru Cina, Festival musim semi, dan betapa aku menyukai apa yang aku anggap sebagai keharmonisan dalam keluarga Chang. Keluargaku sendiri bagaikan puing-puing yang berserakan.
Tapi aku pernah memiliki keluarga, dan kami pernah memiliki rencana. Kami akan memiliki anak-anak dan segalanya. Itulah yang kami inginkan, Rose dan aku.

READMORE
 


Sinopsis Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli

Judul         : Siti Nurbaya (kasih tak sampai)
Pengarang : Marah Rusli
Tebal         : 291



SITI NURBAYA (kasih tak sampai)

Seorang penghulu di Padang yang bernama Sutan Mahmud Syah dengan isterinya, Siti Mariam yang berasal dari orang kebanyakan mempunyai seorang anak tunggal laki-laki yang bernama Syamsul Bahri. Rumah Sutan Mahmud Syah dekat dengan rumah seorang saudagar bernama Baginda Sulaeman. Baginda Sulaeman yang mempunyai seorang anak perempuan tunggal bernama Siti Nurbaya. Mereka itu sangat akrab sehingga seperti kakak dengan adik saja. Siti Nurbaya tidak memiliki ibu karena ibunya sudah meninggal sejak dia masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya.
Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgih
Pada suatu hari setelah pulang dari sekolah, Syamsul Bahri mengajak Siti Nurbaya ke gunung Padang bersama-sama dua orang temannya, yakni Zainul Arifin, anak seorang jaksa kepala di Padang yang bernama Zainul Arifin akan melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Dokter Jawa di Jakarta. Sedang Bahtiar melanjutkan ke Sekolah Opzicther (KWS) di Jakarta pula. Syamsul Bahri pun akan melanjutkan ke Sekolah Dokter tersebut. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah mereka bertamasya ke Gunung Padang. Di Gunung Padang itulah Syamsul Bahri menyatakan cintanya kepada Siti Nurbaya dan mendapat balasan. Sejak itulah mereka itu mengadakan perjanjian akan sehidup semati.
Pada suatu hari yang telah ditentukan, berangkatlah Syamsul Bahri melanjutkan sekolahnya ke Jakarta. Sekolahnya menjadi satu dengan Zainul Arifin. Air mata Siti Nurbaya berlinang membasahi pipi disaat melepas kekasihya di pelabuhan teluk Bayur dan berharap cepat kembali.saling berkirim surat cinta adalah pengobatan rindu mereka berdua.
Di Padang ada seorang orang kaya raya yang bernama Datuk Maringgih. Ia selalu berbuat kejahatan secara halus sehingga tidak diketahui orang lain. Kekayaannya itu didapatnya dengan cara tidak halal. Untuk itu ia mempunyai banyak kaki tangan, antara lain ialah Pendekar Tiga, Pendekar empat, dan Pendekar Lima.
Pada mulanya usaha perdagangan Baginda Sulaiman mendapat kemajuan pesat.   Melihat kekayaan Baginda Sulaeman Datuk Maringgih merasa tidak senang, karena hal itu tidak dikehendaki oleh rentenir seperti Datuk Maringgih maka semua kekayaan Baginda Sulaeman diputuskan akan dilenyapkan.. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Maka dengan seluruh orang suruhanya, yaitu pendekar lima, pendekar empat serta pendekar tiga, serta yang lainnya Datuk Maringgih memerintahkan untuk membakar toko Baginda Sulaiman. Dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman Dengan perantara kaki tangannya itu, dibakarlah tiga buah toko Baginda Sulaeman dan perahu-perahunya yang penuh berisi muatan ditenggelamkannya.
Untuk memperbaiki perdagangannya itu, Baginda Sulaeman meminjam uang kepada Datuk Maringgih sebanyak sepuluh ribu rupiah, karena untuk mengembalikan uang pinjaman itu ia masih mempunyai pengharapan atas hasil kebun kelapanya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika diketahuinya semua pohon kelapanya sudah tidak berbuah lagi. Kebun kelapanya itu oleh para kaki tangan Datuk Maringgih diberi obat-obatan, sehingga pohon kelapanya tidak ada yang berbuah sedikitpun. Disamping itu, karena hasutan kaki tangan Datuk Maringgih semua langganan yang telah berhutang kepada Baginda Sulaeman mengingkari hutangnya. Dengan demikian, tiba-tiba Baginda Sulaeman menjadi orang yang sangat melarat, sehingga ia tidak dapat membayar hutangnya yang sepuluh ribu rupiah itu. Barang-barangnya masih ada hanya kira-kira seharga tujuh ribu rupiah.
Baginda Sulaeman jatuh miskin dan tak sanggup membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan yang dinanti-nantikan oleh Datuk Maringgih. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tidak memiliki apa-apa dan tidak  berdaya agar melunasi semua hutangnya. Karena Baginda Sulaeman tak dapat membayar hutangnya, maka Datuk Maringgih bermaksud hendak menyita barang-barang milik Baginda Sulaeman, kecuali jika Baginda Sulaeman mau menyerahkan putrinya Siti Nurbaya untuk dijadikan sebagai istrinya.
Menghadapi kenyataan seperti itu Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan oleh Datuk Maringgih. Yaitu menyarahkan puterinya Siti Nurbaya kepada Datuk Maringgih untuk dijadikan istri.
Siti Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seperti kulit katak. Dia lebih sedih lagi ketika ia teringat tentang Samsul Bahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia, Jakarta. Sungguh berat memang, namun demi keselamatan dan kebahagiaan ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya dengan Datuk Maringgih
Mula-mula Siti Nurbaya tidak sudi dan menolaknya, karena ia sudah mempunyai kekasih yakni Syamsul Bahri, tetapi ketika melihat ayahnya digiring hendak dimasukkan penjara, maka secara terpaksalah ia mau menjadi istri Datuk Maringgih walaupun sebenarnya hatinya sangat benci padanya. Selanjutnya kejadian yang menimpa diri ayah dan dirinya sendiri itu segera diberitahukan melalui sebuah surat oleh Siti Nurbaya kepada Syamsul Bahri di Jakarta.
Samsul Bahri yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, terlebih karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami oleh keluarganya. Dia sangat terpukul oleh kenyataan itu. Cintanya yang menggebu-gebu padanya kandas sudah. Dan begitupun dengan Siti Nurbaya sendiri, hatinya pun begitu hancur pula, kasihnya yang begitu dalam pada Samsul Bahri kandas sudah akibat petaka yang menimpa keluarganya
Setelah setahun di Jakarta, menjelang bulan puasa, ketika Samsul Bahri sedang liburan kembali ke Padang. Dan pulanglah Syamsul Bahri ke Padang. Setelah menjumpai orang tuanya semuanya sehat walafiat, pergilah ia ke rumah Baginda Sulaeman, setelah ia mendengar dari Ibunya bahwa Baginda Sulaeman sekarang sedang sakit. Sesampainya ke tempat yang dituju, dijumpainya Baginda Sulaeman yang sedang terbaring karena sakit. Tak lama setelah kedatangan Syamsul Bahri itu, datanglah Siti Nurbaya karena ayahnya mengharapkan kedatangannya. Maka berjumpalah Syamsul Bahri dengan Siti Nurbaya.
Beberapa hari kemudian, bertemu pula Syamsul Bahri dengan Siti Nurbaya, pertemuan itu terjadi pada malam hari. Kedua asyik masyuk itu tidak mengetahui bahwa gerak-gerik mereka itu sedang diikuti oleh Datuk Maringgih beserta kaki tangannya. Karena tak tahan mereka itu menahan rindunya maka merekapun berciuman. Pada waktu itulah Datuk Maringgih mendapatkan mereka dan terjadilah percekcokan, karena mendengar kata-kata yang pedas dari Syamsul Bahri, maka Datuk Maringgih memukulkan tongkatnya sekeras-kerasnya kepada Syamsul Bahri. Tetapi karena Syamsul Bahri menghindarkan dirinya sambil menyeret Siti Nurbaya, maka pukulan datuk Maringgih tidak mengenai sasarannya. Akibatnya tersungkurlah Datuk Maringgih. Dengan segera Syamsul Bahri menendangnya, dan karena kesakitan, berteriaklah Datuk Maringgih minta tolong. Mendengar teriakan Datuk Maringgih itulah maka pada saat itu juga keluarlah Pendekar Lima dari persembunyiannya dengan bersenjatakan sebilah keris.
Melihat Pendekar Lima membawa keris itu, berteriaklah Siti Nurbaya sehingga teriakannya itu terdengar oleh para tetangga dan Baginda Sulaeman yang sedang sakit itu, karena disangkanya Siti Nurbaya mendapat kecelakaan maka bangkitlah Baginda Sulaeman dan segera ke tempat anaknya itu. Tetapi karena kurang hati-hati, terperosoklah ia jatuh, sehingga seketika itu juga Baginda Sulaeman meninggal. Ia dikebumikan di Gunung Padang.
Pada waktu Pendekar Lima hendak menikam Syamsul Bahri, menghindarlah Syamsul Bahri ke samping. Dan pada saat itu juga ia berhasil menyepak tangan Pendekar Lima, sehingga keris yang ada di tangannya terlepas. Sementara itu datanglah para tetangga yang mendengar teriakan Siti Nurbaya tadi. Melihat mereka datang, larilah Pendekar Lima menyelinap ke tempat yang gelap.
Para tetanggapun mulai berdatangan, kelihatan pula Sutan Mahmud Syah yang hendak menyelesaikan peristiwa itu. Setelah ia mendengar penjelasan Datuk Maringgih tentang soal anaknya itu, maka Syamsul Bahri oleh Sutan Mahmud Syah yang kebetulan menjadi penghulu kota Padang, malu atas perbuatan anaknya tanpa dipikirkan secara masak-masak lebih dulu lagi. Samsul Bahri langsung diusir olehn ayahnya sendiri dan harus kembali ke Jakarta. Ia berjanji untuk tidak kembali lagi kepada keluargannya di Padang. Pada malam hari itu juga secara diam-diam pergilah Syamsul Bahri ke Teluk Bayur untuk naik kapal pergi ke Jakarta. Datuk Maringgih juga tidak tinggal diam, oleh karena itu Siti Nurbaya diusirnya, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya dan adat istiadat. Siti Nurbaya kembali ke kampunganya dan tinggal bersama karabatnya. Sementara itu Samsul Bahri yang ada di Jakarta hatinya hancur dan penuh dendam kepada Datuk Maringgih yang telah merebut kekasihnya
Pada pagi harinya ributlah Siti Mariam mencari anaknya. Setelah gagal mencarinya di sana-sini, maka dengan sedihnya, pergilah Siti Maryam ke rumah saudaranya di Padang Panjang. Di sana karena rasa kepedihannya itu, ia menjadi sakit-sakit saja.
Sejak kematian ayahnya, Siti Nurbaya menujukan kekerasan hatinya kepada Datuk Maringgih. Ia berani mengusir Datuk Maringgih dan tak mau mengakui suaminya lagi. Dengan rasa geram hati dan dendam pulanglah Datuk Maringgih ke rumahnya. Ia berusaha hendak membunuh Siti Nurbaya.
Setelah peristiwa pertengkaran dengan Datuk Maringgih itu Siti Nurbaya tinggal di rumah saudara sepupunya yang bernama Alimah. Di rumah itulah Siti Nurbaya mendapat petunjuk-petunjuk dan nasihat, antara lain ialah untuk menjaga keselamatan atas dirinya, Siti Nurbaya dinasihati oleh Alimah agar pergi saja ke Jakarta, berkumpul dengan Syamsul Bahri. Penunjuk dan nasihat Alimah sepenuhnya diterima oleh Siti Nurbaya dan diputuskannya, akan pergi ke Jakarta bersama Pak Ali yang telah berhenti ikut Sultan Mahmud Syah sejak pengusiaran diri atas Syamsul Bahri tersebut. Kepada Syamsul Bahri pun ia memberitahukan kedatangannya itu. Tetapi malang bagi Siti Nurbaya, karena percakapannya dengan Alimah tersebut dapat didengar oleh kaki tangan Datuk Maringgih yang memang sengaja memata-matainya.
Pada hari yang telah ditetapkan, berangkatlah Siti Nurbaya dengan Pak Ali ke Teluk Bayur untuk segera naik kapal menuju Jakarta. Mereka mengetahui bahwa perjalanan mereka diikuti oleh Pendekar Tiga dan Pendekar Lima. Setelah Siti Nurbaya dan Pak Ali naik ke kapal dan mencari tempat yang tersembunyi sekat Kapten kapal maka berkatalah Pendekar Lima kepada Pendekar Tiga, bahwa ia akan mengikuti perjalanan Siti Nurbaya ke Jakarta, sedang Pendekar Tiga disuruhnya pulang untuk memberitahukan peristiwa itu kepada Datuk Maringgih. Setelah itu Pendekar Lima pun naik ke kapal dan mencari tempat yang tersembunyi pula.
Pada suatu saat tatkala orang menjadi ribut akibat ombak yang sangat besar, pergilah Pendekar Lima mencari tempat Siti Nurbaya. Setelah ia mendapati Siti Nurbaya, iapun segera menyeret Siti Nurbaya hendak membuangnya ke laut. Melihat kejadian itu Pak Ali membelanya, tetapi iapun mendapat pukulan Pendekar Lima dan tak mampu melawannya karena Pendekar Lima jauh lebih kuat daripadanya. Siti Nurbayapun berteriak sekuat-kuatnya sampai ia jatuh pingsan. Teriaknya itu terdengar oleh orang-orang yang ada dalam kapal, lebih-lebih Kapten kapal itu. Karena takut ketehuan akan perbuatannya itu, Pendekar Lima lari menyembunyikan dirinya. Siti Nurbaya akhirnya diangkut orang ke suatu kamar untuk dirawatnya.
Akhirnya kapal pun tiba di Jakarta. Di pelabuhan Tanjung Priok, Syamsul Bahri sudah gelisah menantikan kedatangan kapal yang ditumpangi oleh kekasihnya itu. Setelah kapal itu merapat ke darat, maka naiklah Syamsul Bahri ke kapal dan mencari Siti Nurbaya. Alangkah terkejutnya tatkala ia mendengar dari Kapten kapal dan Pak Ali tentang peristiwa yang terjadi atas diri Siti Nurbaya itu. Dengan diantar Kapten kapal dan Pak Ali, pergilah Syamsul Bahri ke kamar Siti Nurbaya dirawat. Disitu dijumpainya Siti Nurbaya yang masih dalam keadaan payah.
Pada saat itu tiba-tiba datanglah polisi mencari Siti Nurbaya. Setelah berjumpa dengan Kapten kapal dan Syamsul Bahri, diberitahukan kepada mereka itu bahwa kedatangannya mencari Siti Nurbaya itu ialah atas perintah atasannya yang telah mendapat telegram dari Padang, bahwa ada seorang wanita bernama Siti Nurbaya telah melarikan diri dengan membawa barang-barang berharga milik suaminya dan diharapkan agar orang itu di tahan dan dikirim kembali ke Padang. Mendengar itu mengertilah Syamsul Bahri bahwa hal itu tidak lain akal busuk Datuk Maringgih belaka. Ia pun minta kepada Polisi itu agar hal tersebut jangan diberitahukan dahulu kepada Siti Nurbaya, mengingat akan kesehatannya yang menghawatirakan itu. Ia meminta kepada yang berwajib agar kekasihnya itu dirawat dulu di Jakarta sampai sembuh sebelun kembali ke Padang. Permintaan Syamsul Bahri itu dikabulkan setelah Dokter yang memeriksanya menganggap akan perlunya perawatan atas diri Siti Nurbaya. Setelah Siti Nurbaya sembuh, barulah diberitahukan hal telegram itu kepada kekasihnya. Kabar itu diterima oleh Siri Nurbaya dengan senang hati. Ia bermaksud kembali ke Padang untuk menyelesaikan masalah yang di dakwakan atas dirinya. Setelah permintaan Syamsul Bahri kepada yang berwajib agar perkara kekasihnya itu diperiksa di Jakarta saja tidak dikabulkan, maka pada hari yang ditentukan, berangkatlah Siti Nurbaya ke Padang dengan diantar oleh yang berwajib. Dalam pemeriksaan di Padang ternyata bahwa Siti Nurbaya tidak terbukti melakukan kejahatan seperti yang telah didakwakan atas dirinya itu. Karena itulah Siti Nurbaya di bebaskan dan disana ia tinggal di rumah Alimah
Pada suatu hari walaupun tidak disetujui Alimah, Siti Nurbaya membeli kue yang dijajakan oleh Pendekar Empat, kaki tangan Datuk Maringgih. Kue yang sengaja disediakan khusus untuk Siti Nurbaya itu telah diisi racun. Setelah penjaja kue itu pergi, Siti Nurbaya makan kue yang baru saja dibelinya. Setelah makan kue itu terasa oleh Siti Nurbaya kepalanya pusing. Tak lama kemudian Siti Nurbaya meninggal secara mendadak itu, terkejutlah ibu Syamsul Bahri, yang pada waktu itu sedang menderita sakit keras, sehingga menyebabkan kematiannya. Kedua jenazah itu dikebumikan di Gunung Padang disamping makam Baginda Sulaeman.
Kabar kematian Siti Mariam dan Siti Nurbaya itu juga diberitahukan melalui sebuah telegram kepada Syamsul Bahri di Jakarta. Membaca telegram yang sangat menyedihkan itu, Syamsul Bahri memutuskan untuk bunuh diri. Sebelum hal itu dilakukannya ia menulis surat kepada guru dan kawan-kawannya, demikian pula kepada ayahnya di Padang, untuk minta dari berpisah untuk selama-lamanya. Kemudian dengan menyaku sebuah pistol, pergilah ia ke kantor pos bersama Zainul Arifin untuk memasukan surat. Kabar yang sangat menyedihkan itu dirahasiakan oleh Syamsul Bahri sehingga Zainul Arifinpun tidak mengetehuinya. Sesampainya ke kantor pos Syamsul Bahri minta berpisah dengan Zainul Arifin dengan alasan bahwa ia hendak pergi ke rumah seorang tuan yang telah dijanjikannya. Zainul Arifin memperkenankannya, tetapi dengan tak setahu Syamsul Bahri, ia mengikuti gerak-gerik sahabatnya itu, karena mulai curiga akan maksud sahabatnya itu.
Pada suatu tempat di kegelapan, Syamsul Bahri berhenti dan mengeluarkan pistolnya dan kemudian menghadapkan ke kepalanya. Melihat itu Zainul Arifin segera mengejarnya sambil berteriak. Karena teriakan Zainul Arifin itu, peluru yang telah meletus itu tidak mengenai sasarannya. Akhirnya kabar tentang seorang murid Sekolah Dokter Jawa Di Jakarta yang berasal dari Padang telah bunuh diri itu tersiar kemana-mana melalui surat kabar. Kabar itu sampai di Padang dan di dengar oleh Sultan Mahmud dan Datuk Maringgih.
Karena perawatan yang baik, sembuhlah Syamsul Bahri, ia minta kepada yang berwajib agar berita mengenai dirinya yang masih hidup itu dirahasiakan setelah itu Syamsul Bahri berhenti sekolah. Karena ia menginginkan mati, ia pun menjadi seorang  serdadu (tentara). Ia dikirim kemana-mana antara lain ke Aceh untuk memadamkan kerusakan-kerusakan yang terjadi di sana. Karena keberaniannya, maka dalam kurung waktu selama sepuluh tahun saja pangkat Syamsul Bahri dinaikan menjadi Letnan dengan nama Letnan Mas.
Pada suatu hari Letnan Mas bersama kawannya bernama Letnan Van Sta ditugasi memimpin anak buahnya memadamkan pemberontakkan mengenai masalah balasting (pajak). Sesampainya di Padang dan sebelum terjadi pertempuran, pergilah Letnan Mas ke makam ibu dan kekasihnya di Gunung Padang.
Dalam pertempuran dengan pemberontak itu, bertemulah Letnan Mas dengan Datuk Maringgih yang termasuk sebagai salah satu pemimpin pemberontak itu. Setelah bercekcok sebentar, maka ditembaklah Datuk Maringgih oleh Letnan Mas, sehingga menemui ajalnya. Tetapi sebelum meninggal Datuk Maringgih masih sempat membalasnya. Dengan ayunan pedangnya, terkenalah kepala Letnan Mas yang menyebabkan ia rebah. Ia rebah di atas timbunan mayat, dan yang antara lain terdapat mayat Pendekar Empat dan Pendekar Lima. Kemudian Letnan Mas pun diangkut ke rumah sakit. Karena dirasakannya bahwa ia tak lama lagi hidup di dunia ini, maka Letnan Mas minta tolong kepada dokter yang merawatnya agar dipanggilkan penghulu di Padang yang bernama Sutan Mahmud Syah, karena dikatakannya ada masalah yang sangat penting. Setelah Sutan Mahmud Syah datang, maka Letnan Mas pun berkata kepadanya bahwa Syamsul Bahri masih hidup dan sekarang berada di Padang untuk memadamkan pemberontakan, tetapi kini ia sedang dirawat di rumah sakit karena luka-luka yang dideritanya. Dikatakannya pula kepadanya, bahwa Syamsul Bahri sekarang bernama Mas, yakni kebalikan dari kata Sam, dan berpangkat Letnan. Akhirnya disampaikan pula kepada Sutan Mahmud Syah, bahwa pesan anaknya kalau ia meninggal, ia minta di kebumikan di gunung Padang diantara makam Siti Nurbaya dan Siti Mariam. Setelah berkata itu, maka Letnan Mas meninggal.
Setelah hal itu ditanyakan oleh Sutan Mahmud Syah kepada dokter yang merawatnya, barulah Sutan Mahmud Syah mengetahui bahwa yang baru saja meninggal itu adalah anaknya sendiri, yakni Letnan Mas alias Syamsul Bahri. Kemudian dengan upacara kebesaran, baik pihak pemerintah maupun dari penduduk Padang, dimakamkanlah jenazah Letnan Mas atau Syamsul Bahri itu diantara makam Siti Maryam dan Siti Nurbaya seperti yang dimintanya.
Sepeninggal Syamsul Bahri, karena sesal dan sedihnya maka meninggal pula Sultan Mahmud Syah beberapa hari kemudian. Jenazahnya dikebumikan didekat makam isterinya, yakni Siti Maryam. Dengan demikian di kuburan gunung Padang terdapat lima makam yang berjajar dan berderet, yakni makam Baginda Sulaeman, Siti Nurbaya, Syamsul Bahri, Siti Maryam dan Sultan Mahmud Syah.
READMORE
 


PSIKOLINGUISTIK DAN IMPLIKASINYA

BAB X 
PSIKOLINGUISTIK DAN IMPLIKASINYA

           
A. Persoalan-persoalan dalam pembelajaran bahasa
  Berkaitan dengan psikolinguistik, guru dapat menerapkan pendekatan dalam pengajaran bahasa dengan melihat dari sisi peserta didik. Misalnya pendekatan yang bersifat dengan teori tertentu, seperti behavioral atau mentalis. Semua upaya dalam menerapakan pendekatan dapat mencapai tujuan yang optimal yaitu siswa dapat berbahasa dengan baik dan benar  Psikolinguistik yang didalamnya merangkum beberapa pendekatan dapat membantu guru dal;am membuat perencanaan pengajaran yang apik untuk setiap pertemuan. Sehingga bertujuan akhir guru dapat memprogram pengajaran bahasa sedemikian rupa.
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa. Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975) juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pebelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
B. Psikolinguistik dan kurikulum
Kurikulum berkembang sesuai dengan perubahan dan prkembangan SDM (sumber daya manusia). Menurut Dubin dan Olshtain yang dikutip oleh Djunaidi (1987 : 54) , ”kurikulum berisi deskripsi secara luas mengenai tujuan – tujuan umum dengan menunjukan filsafat pendidikan dan budaya secara keseluruhan yang diterapkan untuk berbagai bidang studi, dalam hubungan ini, disertai landasan teori tentang bahasa dan belajar bahas”.
        Psikolinguistik diimplementasikan pada mata pelajaran yang tercermin dalam butir – butir kurikulum tersebut. Contohnya mata pelajaran pada aspek menyimak dan berbicara,manakah yang harus didahulukan. Tentunya pada aspek menyimak harus didahulukan baru kemudian pada aspek berbicara jika dilihat dari kacamata psikolinguistik. Sebab ketika bayi lahir, kemampuan keterampilan berbahasa pada aspek menyimak, yang dalam kegiatannya memerlukan waktu yang lebih banyak. Maka dikatan menyimak sebagai manifestasi pertama dalam keterampilan berbahasa.
C. Psikolinguistik dan guru
Guru harus memiliki kompetensi agar dapat melaksanakan tugasnya dengan profesional, antara lain dengan :
1.  Menguasai bahan
2. Mengelola program belajar – mengajar
3. Mengelola kelas
4. Menggunakan sumber / media
5. Menguasai landasan kependidikan
6. Mengelola interaksi belajar – mengajar
7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
8. Mengenal fungsi dan program layanan BK di sekolah
9. Mengenal dan menyelenggarakan adminstrasi sekolah
10.Memahami prinsip dan menerapkan hasil penelitian pendidikan untuk keperluan  pengajaran
Berdasarkan uraian di atas salah satu syarat menjadi guru yang profesional adalah menguasai bahan hubungannya dengan psikolinguistik, misalnya tuntutan untuk memahami dan menerapakan teori akuisisi bahasa (teori behavior). Berdasar teori tersebut, anak lahir tidak membawa potensi bahasa. Maka, guru harus dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan pengalaman berbahasa yang dipelajari dengan memberikan aktvitas dengan cara memberikan rangsangan. Guru harus peka terhadap kondisi peserta didik, mengenai apakah bahan yang diajarkan bermakna dan bernmanfaat dalam kehidupan peserta didik.
Di samping itu guru juga harus mempertimbangkan faktor kesukaran bawaan, faktor hubungan bahasa yang dipelajari bahasa ibu, dan faktor pengalaman belajar bahasa yang dipelajari. Faktor tersebut berasal dari sisi linguistik.
D. Implikasi-implikasi psikolinguistik terhadap pembelajaran bahasa
Keberhasilan sebuah pembelajaran bahasa akan sangat bergantung pada komponen yang terlibat dalam pembelajaran. Komponen tersebut di antaranya adalah siswa sebagai subjek didik dan materi pembelajaran bahasa yang dipelajari oleh siswa. Karena itulah, dalam pembelajaran bahasa pemahaman tentang psikolinguistik dipandang penting. Melalui psikologi dipelajari mengenai siswa dan melalui linguistik dipelajari mengenai materi bahasa. Melalui interdisiplin ini dapat dipahami proses yang terjadi dalam diri siswa ketika memahami materi bahasa.
Pembelajaran merupakan suatu sistem. Artinya, pembelajaran merupakan satu kesatuan yang terdiri atas berbagai komponen yang saling menunjang. Karena itu, keberhasilan pembelajaran akan ditentukan oleh komponen-komponen yang terlibat dalam pembelajaran tersebut. Komponen-komponen tersebut adalah guru, siswa, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode dan teknik pembelajaran, evaluasi, serta sarana yang dibutuhkan.
Demikian pula dalam pembelajaran Bahasa, agar pembelajaran bahasa berhasil, komponenkomponen tadi harus diperhatikan. Pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa, bukan hanya faktor guru dan materi pembelajaran bahasa yang harus diperhatikan, siswa pun sebagai subjek didik harus diperhatikan demi keberhasilan pembelajaran. Materi bahasa bisa dipahami melalui Linguistik sebagaimana dikemukakan oleh Yudibrata, Andoyo Sastromiharjo, dan Kholid A. Harras (1997/1998: 2) bahwa linguistik adalah ilmu yang mengkaji bahasa, biasanya menghasilkan teori-teori bahasa; tidak demikian halnya dengan siswa sebagai pembelajar bahasa. Siswa sebagai organisme dengan segala prilakunya termasuk proses yang terjadi dalam diri siswa ketika belajar bahasa tidak bisa dipahami oleh linguistik, tetapi hanya bisa dipahami melalui ilmu lain yang berkaitan dengannya, yaitu Psikologi. Atas dasar hal tersebut muncullah disiplin ilmu yang baru yang disebut Psikolinguistik atau disebut juga dengan istilah Psikologi Bahasa.
Implikasi-implikasi  Psikolinguistik dalam Pembelajaran Bahasa Siswa adalah subjek dalam pembelajaran. Karena itu, dalam halini siswa dianggap sebagai organisme yang beraktivitas untuk mencapai ranah-ranah psikologi, baik kognitif, afektif,maupun psikomotor. Kemampuan menggunakan bahasa baik secara reseptif (menyimak dan membaca) ataupun produktif (berbicara dan menulis) melibatkan ketiga ranah tadi. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Garnham(Nababan, 1992: 60-61) terhadap aktivitas berbicara ditemukan berbagai berbicara yang menyimpang (kurang benar)dengan pengklaifikasian kesalahan sebagai berikut. Menurut Garnham penyebab kesalahan yang dilakukan oleh pembicara di antaranya adalah kesaratan beban (overloading), yaitu perasaan waswas (menghadapi ujian atau pertemuan dengan orang yang ditakuti) atau karena penutur kurang menguasai materi, terpengaruh oleh perasaan afektif, kesukaran melafal kata-kata, dan kurang menguasai topik.
Dari penyebab kesalahan-kesalahan tadi, dapat kita klasifikasikan berdasarkan ranah Psikologi. Penyebab kesalahan berupa perasaan waswas berkaitan dengan ranah afektif. Penyebab kesalahan berupa kurang menguasai materi atau topik berkaitan dengan ranah kognitif, dan penyebab kesalahan berupa kesukaran melafalkan kata berkaitan dengan ranah psikomotor. Contoh-contoh kesalahan dan penyebab kesalahan yang telah dijelaskan tadi menunjukkan bahwa peran psikolinguistik dalam pembelajaran bahasa sangat penting. Tujuan umum pembelajaran bahasa, yaitu siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam berbahasa lisan ataupun berbahasa tulis. Agar siswa dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar diperlukan pengetahuan akan kaidahkaidah bahasa. Kaidah-kaidah bahasa dipelajari dalam linguistik. Untuk dapat menggunakan bahasa secara lancar dan komunikastif siswa tidak hanya cukup memahami kaidah bahasa, tetapi diperlukan kesiapan kognitif (penguasaan kaidah bahasa dan materi yang akan disampaikan), afektif (tenang, yakin, percaya diri, mampu mengeliminasi rasa cemas, ragu-ragu, waswas, dan sebagainya), serta psikomotor (lafal yang fasih, keterampilan memilih kata, frasa, klausa, dan kalimat). Dengan demikian, jelaslah bahwa betapa penting peranan Psikolinguistik dalam pembelajaran bahasa.
READMORE
 


PEMBELAJARAN BAHASA

BAB IX
PEMBELAJARAN BAHASA
A.  Pengertian Pembelajaran Bahasa
              Abdoel chaer (2002 : 242) menyatakan bahwa pembelajaran bahasa mengacu pada hipotesis pemerolehan bahasa kedua (B2) setelah seorang kanak-kanak memperoleh bahasa bahasa pertamanya (B1). Pembelajaran bahasa diyakini bahwa bahasa kedua dapat dikuasai hanya dengan proses belajar, dengan cara sengaja dan sadar. Dalam pemerolehan bahasa kedua beranggapan bahwa bahasa kedua suatu yang diperoleh baik secara formal dan informal.
              Penggunaan istilah bahasa ibu perlu dilakukan dengan hati-hati karena berbagai kasus yang terjadi. Oleh karena itu penggunaan bahasa pertama akan lebih tepat dari pada penggunaan bahasa ibu . Pembelajaran bahasa mengacu pada penguasaan bahasa kedua yang dilakukan secara formal maupun informal, dan nampaknya pembelajaran bahasa lebih kependidikan formal.
B.  Tipe Pembelajaran Bahasa
          Elis (dalam Chaer 2002 : 242) menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran bahasa yaitu tipe naturalistik dan tipe formal dalam kelas.
          Pertama, tipe naturalistik bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa kesengajaan pembelajaran berlangsung didalam lingkungan kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat billingual dan multi lingual tipe naturalistik banyak dijumpai. Belajar bahasa menurut tipe naturalistik ini sama prosesnya dengan pemerolehan bahasa pertama yang berlangsungnya secara ilmiah, sehingga pemerolehan bahasa yang dihasilkan antara anak-anak dan dewasa berbeda.
       Kedua, yang bersifat formal berlangsungdi dalam kelas dengan guru, materi dan alat-alat yang sudah dipersiapkan, pembelajaan bahasa dalam tipe ini dilakukan dengan sengaja atau sadar, pembelajaran bahasa bersifat formal seharusnya lebih baik dari pada pembelajaran yang dilakukan secara naturalistik, tapi pada kenyataanya tidak tidak berbagai penyebab atau faktor yang mempengaruhinya dalam proses pembelajaran bahasa. Nurhadi (dalam Chaer. 2002 : 144) meskipun studi tentang metedologi belajar bahasa kedua (atau bahasa asing) telah sedemikian lama dengan biaya yang cukup besar, tetapi belum banyak mengubah cara orang belajar bahasa.
C.  Sejarah Perkembangan Bahasa
            Chaer (2002 : 244 -245) menyatakan adanya pembelajaran bahasa sejak adanya intraksi antara dua masyarakat atau lebih yang memiliki bahasa yang berbeda pembelajaran bahasa yang berlangsung tanpa perubahan. Pandangan yang berarti, dalam arti perubahan pandangan dan inovasi baru dimulai tahun 1880.
            Nurhadi (dalam Chaer, 2002 : 245) dalam sejarah perkembangan ada empat tahap penting yang dapat diamati sejak 1880 sampai dasawarsa 80-an.
1. Tahap pertama, priode antara 1880 – 1920 pada tahap ini terjadi rekontruksi bentuk-bentuk metode langsung, metode langsung ini pada awal masehi, diterapkan di sekolah-sekolah. Selain itu, dikembangkan metode bunyi (phonetic method).
2. Tahap kedua, periode antara 1920-1940 pada masa ini terbentuk forum belajar bahasa asing yang kemudian menghasilkan aplikasi metode-metode yang bersifat kompromi, semua ini merupakan perluasan dari teknik-teknik pengajaran membaca yang sudah ada, yang dikaitkan dengan tujuan-tujuan pengajaran bahasa yang lebih khusus.
3.  Tahap ketiga periode antara 1940-1970, yang kemunculanya dilatarbelakangi oleh peperangan, dimana orang mencari metode bahasa asing yang paling cepat dan efisien untuk berkomunikasi.
Ø  Periode 1940-1950, ditandai dengan lahirnya metode, pada periode itu dalam dunia linguistik muncul pendekatan linguistik, pendekatan ini merupakan imbas dari lahirnya pandangan strukturalis dalam bidang kebebasan.
Ø  Periode 1950-1960, ditandai dengan munculnya metode audiolingual dan metode audiovisual sebagai keberhasilan. Metode ini lahir dari kaum behavioris dan akibat adanya penemuan alat-alat bantu belajar bahasayang menjadi landasan utama teori stiulus responsnya B.F skinner. Selain itu muncul minat terhadap kajian psikolinguistik.
Ø Periode 1960-1970, awal turunya metode audiobillingual dan audiovisual dan mulai populernya analisis kontrastif, yang berusaha mencari landasan teori dalam pengajaran bahasa. Karena hasil studi psikolinguistikdan pandangan Noamchomsky (Dalam chaer, 2002 : 246) menyiratkan bahwa kedua metode itu yang bersandar pada teori stimulus respons atau model tubian dan imitasi dalam pembelajaran bahasa itu tidak logis.
4. Tahap keempat, periode antara 1970-1980, periode yang paling inovatif  dalam pembelajaran bahasa kedua, konsep dan hakekat belajar bahasa dirumuskan kembali, kemudian diarahkan pada pengembangan sebuah model pengembangan sebuah model pembelajaran yang efektif dan efisien yang dilandasi oleh teori yang kokoh.
                 Akhir dari periode ini munculnya satu pendekatan komunikasi dalam penbelaran bahasa.
D.   Hipotesis-hipotesis Pembelajaran Bahasa
     Chaer (2002 : 246) hasil yang diperoleh oleh pakar pembelajaran bahasa belum mantap sebagai teori karena belum teruji kebenaranya, sehingga muncul hipotesis-hipotesis sebagai berikut.
1.   Hipotesis kesamaan antara B1 dan B2
            Hipotesis ini  menyatakan adanya kesamaan dalam proses belajar B1 dan B2, yang terletak pada pemerolehan struktur bahasa (modus interogasi, negasi dan morfem gramatikal), unsur kebahasaan tertentu akan diperoleh terlebih dahulu, sementara unsur kebahasaan lain diperoleh baru kemudian.
2.    Hipotesis kontarstif
Charles dan Robert (dalam Chaer, 2002 : 247) menyatakan bahwa kesalahan yang dibuat dalam belajar B2 adalah karena adanya perbedaan antara B1 dan B2 sedangkan kemudahan dalam belajar B2 disebabkan oleh adanya kesamaan antara B1 dan B2.
Hipotesis kontrastif juga menyatakan bahwa seorang pembelajar B2 seringkali melakukan transfer B1 kedalam B2. Transfer ini dapat terjadi pada semua tingkat kebahasaan (tata bunyi, tata bentuk kata, tata kalimat dan tata bentuk kata (leksikan)). Sehingga bisa terjadi transfer positif dan negatif.
3.    Hipotesis krashen
            Stephen kroshen (dalam Chaer 2002 : 247) berkenaan dengan pemerolehan bahasa, ia mengajukan sembilan hipotesis yang saling berkaitan.
§  Hipotesis pemerolehan dan belajar
            Penguasaan suatu bahasa dibedakan atas pemerolehan (acquition) yaitu penguasan suatu bahasa melalui cara bahwa sadar atau alami tidak disengaja, belajar (learning) usaha sadar baik secara formaldan eksplisitmenguasai bahasa yang dipelajari berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa.
§  Hipotesis urutan alamiah
            Proses pemerolehan bahasa kanak-kanak, memperoleh unsur-unsur yang dapat diprediksikan yang bersifat alamiah atau relaty stabil.
§  Hipotesis monitor
            Adanya hubungan antara proses sadar dalam pemerolehan bahasa. Proses sadar menghasilkan hasil belajar dan proses bahwa sudah menghasilkan pemerolehan. Ada hubungan yang erat antara hipotesis monitor dan hipotesis pemerolehan dan belajar. Pemerolehan akan menghasilkan pengetahuan eksplisit tentang aturan-aturan tata bahasa.
§  Hipotesis masukan
            Bahwa seseorang menguasai bahasa melalui masukan (input) yang dipahami atau bahwa kegiatan mendengarkan memahami isi wacana dalam proses pemerolehan bahasa, dan penguasaan bahasa secara aktif akan datang pada waktunya nanti.
§  Hipotesis afektif
            Bahwa orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibadingkan denagn kepribadian dan sikap yang lain.
§  Hipotesis pembawaan (bakat)
            Bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan belajar bahasa kedua. Krashen (dalam Chaer, 2002 : 249) bahwa sikap secara langsung berhubungan dengan pemerolehan bahasa kedua, bakat berhubungan dengan belajar.
§  Hipotesis filter afektif
            Filter yang bersifat afektif dapat menahan masukan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya untuk memperoleh bahasa kedua. Filter ini bisa berupa rasa kurang percaya diri dan filter afektif ini bisa disebut Mental Block.
§  Hipotesis bahasa pertama
            Bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan pada bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. Berilah kesempatan pada anak untuk mendapat masukan dan mengurangi filter afektifnya.
§  Hipotesis variasi individualpenggunaan monitor
            Cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang dipelajarinya ternyata bervariasi, baik secara sistematis atau tidak. Ada orang yang tidak peduli dengan aturan-aturan tata bahasa atau hanya mengungkapkan idenya, biasanya lebih cepat dalam belajar bahasa.
§  Hipotesis bahasa – antara
            Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa atau ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua itu. Bersifat khas dan mempunyai karakteristik tesendiri, dan merupakan produk dari strategi seseorang dalam belajar bahasa kedua, artinya kumpulan atau akumulasi yanng terus menerus dari proses pembentukan penguasaan bahasa.
§  Hipotesis pijinasi
            Proses belajar bahasa kedua, bisa saja selain terbentuknya bahasa antara terbentuk juga bahasa pijin (pidgin) yakin sejenis bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam wilayah tertentuyang berada dalam dua bahasa dan bahasa pijin tidak memiliki penutur asu’.
E.  Faktor-faktor penentu dalam pembelajaran bahasa kedua
1.  Faktor motivasi
     Lambert dkk (dalam Chaer 2002 : 251) bahwa belajar bahasa akan lebih berhasil bila dalam diri pembelajar ada motivasi tertentu.
     Coffer (dalam Chaer 2002 : 251) motivasi adalah dorongan, hasrat, kemauan, alasan atau kemauan yang menggerakan orang untuk melakukan sesuatu. Brown (dalam Chaer, 2002 : 251) motivasi adalah dorongan dari dalam dorongan sesaat, emosi atau keinginan yang mengerakan seseorang untuk berbuat sesuatu. Lambert (dalam Chaer, 2002 : 251) motivasi adalah alasan untuk mencapai tujuan secara keseluruhan. Jadi motivasi dalam pembelajaran bahasa berupa dorongan yang datang dari dalam diri pembelajar untuk mempelajari suatu bahasa kedua.
Motivasi mempunyai dua fungsi yaitu:
ü  fungsi integratif kalau motivasi itu mendorong seseorang untuk mempelajari suatu bahasa karena adanya keinginan untuk berkomunikasi dengaan  masyarakat penutur bahasa.
ü  fungsi instrumental kalau motivasi mendorong seseorang untuk mempelajar bahasa kedua karena tujuan yang bermanfaat
2.   Faktor usia
   Bambang djunaidi (dalam Chaer 2002 : 252) dalam pembelajaran bahasa kedua anak-anak lebih baik dan berhasil dibandingkan dengan orang dewasa dari anggapan ini muncul berbagai argumen yang bebeda-beda dari para pakar.
Dalam penelitian faktor usia menunjukkan hal
·    Faktor usia tidak terlalu berperanurutan pemerolehan bahasa tampaknya sama.
·     Kecepatan dan keberhasilan blajar bahasa kedua
·   Kanak-kanak lebih berhasil dari orang dewasa karena dalam pemerolehan sistem fonologi atau pelafalan.
·      Orang dewasa maju lebih cepat dari kanak-kanak dalam hal morfologi dan sintaksis
·      Kanak-kanak lebih berhasil dari orang dewasa tetapi tidak selalu cepat.
3.  Faktor penyajian formal
Chaer (2002 : 253) penyajian pembelajaran secara formal tentu memiliki pengaruh terhadap kecepatan dan keberhasilan dalam memperoleh bahasa kedua.
Steiberg (dalam Chaer, 2002 : 253) karateristik pembelajaran bahasa di kelas.
ü  Lingkungan kelas diwarnai faktor psikologi sosial kelas meliputi penyesuaian, disiplin dan prosedur.
ü  Lingkungan kelas dilakukan praseleksi linguistik.
ü  Disajikan kaidah gramatikal secara eksplisit.
ü  Disajikan data dan situasi bahasa yang artifisial.
ü  Disediakan alat-alat pengajaran.
ü  Pengaruh terhadap pembelajaran bahasa kedua;
- pengaruh terhadap kompetensi
Penguasaan kompetensi sangat berpengaruh oleh peran yang dimainkan oleh pembelajaran dalam lingkungan formal.
Dulay, dkk (dalam Chaer, 2002 : 254) membagi peran pembelajar ini menjadi tiga macam, pertama komunikasi satu arah, tidak memberi kesempatan kepada pembelajar untuk merespon apa yang disampaikan oleh guru. Kedua komunikasi dua arah yang terbatas memberi kesempatan untuk merespon tetapi bukan bahasa yang dipelajari. Ketiga komunikasi dua arah penuh memberi kesempatan sebanyak-banyaknya pada pembelajaran untuk merespon bahasa yang dipelajari.
- Pengaruh terhadap kualitas perfomansi
Ellis (dalam Chaer, 2002 : 255) perfomansi merupakan realisasi kompetensi kebahasaan yang dimiliki seseorang. Perfomansi menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa secara formal dapat memperbaiki permansi gramatikal seorang pembelajar.
- Pengaruh terhadap urutan pemerolehan
Urutan pemerolehan adalah pemerolehan morfem gramatikal pembelajaran yang mendapat pembelajaran secara formal tidak berbeda dengan belajar yang alami.
- Pengaruh terhadap kecepatan pemerolehan
Kecepatan pemerolehan adalah kecepatan menangkap masukan dan menjadikan masukan itu sebagai perbendaharaan kebahasaan. Bersifat negatif dan tergantung pada faktor itelejensi, sikap, bakat, motivasi dan faktor internal lainya. Pengaruh kecepatan ini nampak pada penguasaan kaidah dan bentuk kebahasaan yang berfungsi sebagai penyaring kebahasaan yang diproduksi.
Rofi’udin (dalam Chaer : 256) interaksi kelas merupakan  bagian dari pembelajaran bahasa kedua secara formal dapat memberikan pengaruh terhadap kecepatan pemerolehan bahasa kedua, dan mendukung proses penyerapan input menjadi intake. Penggunaan struktur dan kosa kata sebagai pemantapan intake.
4.  Faktor bahsa pertama
Bahasa pertama dianggap menjadi bahasa pengganggu dalam proses pembelajaran yang kedua, karena bisa terjadi seorang pembelajartidak melakukan transfer unsur-unsur bahasa pertamanya, sehingga terjadi interferensi, alih kode, campur kode, kekhilafan (eror).
Ø Menurut teori stimulus renspons yang dikemukakan oleh kaum behafioris, bahasa adalah prilaku stimulus renspons, selain itu proses perolehan bahasa adalah proses pembiasaan. Munculnya unsur bahasa pertama pada waktu berbahasa kedua, adalah jika stimulus bahasa kedua yang sama dengan pertama belum diterima oleh pembelajar, pengaruh bahasa pertama dalam bentuk transfer bahasa kedua, secara teoritir pengaruh ini merupakan intake.
Ø Menurut klein (dalam Chaer, 2002 : 257) teori kontrastif keberhasilan bahasa kedua ditentukan oleh keadaan linguistik bahasa yang dikuasai , berbahasa kedua suatu proses transferisasi. Menurut teori analisis kontrastif semakin besar antara keadaan linguistik bahasa yang dikuasai dengan linguistik yang akan dipelajari akan semakin sulit menguasainya.
5.  Faktor lingkungan
Dulay (dalam Chaer, 2002 : 257-258) kualitas lingkungan bahasa sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua. Tjohjono (dalam Chaer, 2002 : 258) lingkungan bahasa adalah segala hal yang di dengar dan dilihat oleh pembelajar.
Lingkungan bahasa dapat dibedakan atas:
Ø  Pengaruh lingkungan formal
Dulay dan elis (dalam Chaer : 2002 : 258) lingkungan formal adalah salah satu lingkungan dalam belajar bahasa yang memfokuskan pada penguasaan kaidah bahasa yang dipelajari. Krashen (dalam Chaer, 2002 : 258) lingkungan formal bahasa mepunyai ciri-ciri bersifat artifisial, merupakan bagian dari keseluruhan pengajaran bahasa, pembelajar diarahkan untuk melakukan aktivitas bahasa.
Ø Peranaan koreksi, Hendrikson dkk (dalam Chaer, 2002 : 259)menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifisikan antara koreksi yang diberikan secara sistematis dengan kebenaran pemakaian kaidah bahasa.
Ø  Peranan perluasan, Dulay (dalam Chaer, 2002 : 259) perluasan adalah pemberian kaidah bahasa pada pembelajar dengan menggunakan model contoh yang sistematis, baik terhadap ujaran pembelajar yang benar maupun yang lengkap, tanpa pembelajar memperhatikan perluasan.
Ø  Peranan frekuensi, Roekhan (dalam Chaer, 2002 : 259) pengenalan kaidah bahasa yang diberikan dengan frekuensi tinggi akan dapat meningkatkan keterampilan bahasa.
Ø Pengaruh Lingkungan Informal Chaer (2002 :260) lingkungan formal bersifat alami yang sangat berpengaruh hasil bahasa antara lain bahasa Guru, bahasa teman sebaya, da bahasa orang tua, bahasa penutur asing berperan sebagai pengembangan komunikasi, pembentukan iktan batin dan model pembelajaran.
F.  Transfer dan Interferensi
 Chaer (2002:261) Dalam pembelajaran bahasa kedua, bahasa pertama  “ dapat menganggu” penggunaan bahasa pertama pembelajar. Pembelajar akan cenderung mentrasfer unsur bahasa pertamanya ketika melaksanakan bahasa kedua. Akibatnya terjadilah apa yang ada dalam kajian sosiolinguistik disebut Interferensi, campur kode dan kekhilafan (error). Penggunaan atau pentrasferan unsur bahasa pertama lama kelamaan akan berkurang, sjalan dengan taraf  kemampuan bahasa  kedua. Interferensi bisa terjadi pada semua tataran bahasa yakni; Fonologi, Sintaksis, Morfologi dan Leksikon.  Secara teoritis tidak aka nada orang yang mempuyai kemampuan bahasa kedua sama baiknya dengan kemampuan bahasa pertama. Pembelajaran bahasa pertama terjadi setelah sseorag pembelajar mennguasai dan menuranikan bahsa pertamanya, maka, mau tidak mau, bahasa pertama yang telah dinuranikan akan “ menganggu” ketika pembelajar menggunakan bahsa kedua. 
READMORE