Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Materi : Menyuting Karangan
dengan Berpedoman pada Ketepatan Ejaan
Kelas/Semester : IX/2
Metode
Mengajar : Metode Ceramah Plus
Metode
Pembelajaran : Metode Diskusi, Metode Kerja Kelompok Kecil
Strategi
Pembelajaran : Strategi Pembelajaran Cooperative
Learning
Waktu : 2 X 35 (70) menit
Standar
Kopetensi : Menulis
1.1. Memahami penjelasan dari nara sumber mengenai cerita
rakyat yang di sampaikan secara lisan.
Kopetensi Dasar :
1.2. Mengidentifikasi Unsur
cerita yang ada pada cerita rakyat yang di
dengarnya.
Indikator : 1.2.1.
Mengidentifikasi nama tokoh pada cerita rakyat tersebut
1.2.2.
Mengetahui latar belakang cerita rakyat tersebut.
1.2.3.
Menuliskan watak setiap tokoh dalam cerita.
Tujuan Pembelajaran :
- Dengan diadakannya diskusi peserta didik diharapkan mampu membina kerja sama, sehingga interaksi dalam kelas jauh lebih baik
- Peserta Didik mampu menemukan makna yang tersirat pada cerpen Sangkuriang.
- Peserta Didik diharapkan bisa mengidentifikasi Perwatakan pada cerita Sangkuriang.
- Peserta Didik diharapkan mengetahui Alur cerita dari Cerita rakyat “Sangkuriang”.
- Peserta Didik mampu menulis cerita sangkuriang dengan akurat.
-
. Dengan pemberian tugas Peserta Didik diharapkan mampu menjelaskan kembali Cerita yang di sampaikan oleh Guru.
A. Materi Ajar
Cerita Sangkuriang
Pada
jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang
Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak
tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu
ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang
sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi
Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.
Pada
suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah
sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor
burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang
langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah
Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau
mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka
Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya
lagi.
Sesampainya
di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu
mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok
nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan
perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan
meninggalkan rumahnya.
Setelah
kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap
hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena
kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah
berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.
Setelah
bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang
ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena
kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut
bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat
cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan
kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya
lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di
waktu dekat.
Pada
suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan.
Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan
ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia
merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka
tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang
tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata
benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.
Dayang
Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya
sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara
kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka.
Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya
dianggap angin lalu saja.
Setiap
hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah
terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik.
Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat
memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi
sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama
Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah,
meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang
sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang
menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan
menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya,
Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu
menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja
dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir
menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.
Dayang Sumbi lalu
meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah
di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang
mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan
pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh
Dayang Sumbi.
Dengan
rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah
dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan
seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah
dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah
gunung yang bernama Tangkuban Perahu.
B. Kegiatan yang dilakukan Guru
1. Kegiatan Awal : 10 menit
1. Kegiatan Awal : 10 menit
- Guru mengkondisikan siswa untuk siap belajar.
- Guru memotivasi siswa untuk mengikuti kegiatan yang akan dilakukan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran.
- Guru bertanya kepada siswa tentang cerita rakyat “ Sangkuriang”.
2. Kegiatan
Inti : 45 menit
- Guru Menceritakan cerita rakyat “ Sangkuriang”.
- Guru membagi beberapa siswa menjadi beberapa kelompok kecil.
- Setiap siswa disuruh berdiskusi dengan kolompoknya untuk membahas latar belakang, alur cerita dan perwatakan pada cerita Sangkuriang.
- Masing-masing kelompok disuruh untuk Menulis cerita yang disampaikan guru tadi dengan cara mereka sendiri.
- Masing-masing kelompok diharuskan ada satu perwakilan (satu siswa) yang disuruh untuk menceritakan kembali mengenai cerita Sangkuriang.
- Penutup Pelajaran
- Memberi Evaluasi
- Memberi Saran
C. Penilaian
Guru menilai
berdasarkan dari keaktifan siswa dalam kelompok dan hasil kerja kelompok (Portfolio).
0 komentar:
Posting Komentar